Keberadaan Tugu Peringatan Rakyat Sepong Mengenaskan

0


TPRS tak teawat. Diapit warung dan kios. Menyedihkan (Foto: Kompas)

 Warga Serpong sangat terkejut dengan adanya pemberitaan berbagai media,  Tugu Peringatan Rakyat Serpong (TPRS) tak terurus. Bahkan keberadaannya di pinggir bunderan Jln Serpong Raya – Cisauk,  Cilenggang nyaris tak telihat karena diapit rumah makan padang dan kios kelontong. Tanda satu-satunya tugu masih disambangi orang adalah adanya bendera  merah putih yang berkibar di atasnya.

“Ini tandanya Pemkot Tangsel tak ada pehatian pada situs  sejarah yang ada di Tangsel. Mereka lebih sibuk membangun sarana fisik ketimbang melestaikan nilai pejuangan rakyat,” kata Aditya, guru SMA di Serpong, “Harusnya membangun fisik tapi jangan melalaikan nilai pejuangan.”

Aditya sebenarnya pernah membicarakan nasib tugu tesebut dengan tokoh PGRI yang dulu ikut aktif memekarkan Kota Tangsel. Tapi sang kawan bilang, jangankan tugu peringatan, kepada para aktivis Cipasera yang pertama memproklamirkan Kota Tangsel saja tak punya perhatian. “Yang muncul justru orang-orang yang hadir belakangan, ketika Tangsel sudah mau gol sebagai kota. Yang pertama menggagas justru dilupakan,” kata Adytia.

Hal senada diungkap pula oleh  Yasid, tokoh masyarakat Cilenggang. Katanya, pihaknya sebenarnya jengkel kepada Pemkot Tangsel yang menelantarkan Tugu Peringatan Rakyat Serpong tersebut.”Cuma kami hanya bisa jengkel doang. Maklum ane orang kecil, meski kakek dulu pernah ikut perang ketika Serpong diserbu Belanda,” kata Yasid.       

Dengan terbukanya kondisi TPRS tesebut, Yasid beharap, pemerintah  segera menata ulang tugu tersebut. Dan dia percaya, dalam waktu dekat sudah  ada respon pemerintah. Apakah itu pemerintah kota, provinsi atau pusat.      

Airin Rachmi Dhiani, Walkot Tangsel  yang diminta komentarnya  tak ada di kantornya. Sementara Didi Rawidi, Kep Humas Tangsel saat ditelepon HP-nya mati. 
 
Seperti diketahui, kemarin sejumlah media online memberitakan bila TPRS kondisinya memprihatinkan. Bangunannya  berdiri terhimpit warung dan rumah makan Padang di Bundaran petigaan Jln Sepong Raya – Cisauk. Padahal TPRS  merupakan simbol perlawan rakyat terhadap Agresi Militer Belanda Kedua tahun 1948 silam.

Menurut Yasid perlawanan rakyat terhadap Belanda murni perlawanan rakyat, tak ada komando BKR (Badan Keamanan Rakyat) atau TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Rakyat datang dari arah Suradita, Cilenggang dan Serpong sekitarnya.

“Penggeraknya tak lain  Buya Hakim dan Baharuddin. Beliau penggerak sekaligus pemimpin penyerbuan,” kata Yasid.

Konon,saat tejadi petempuan,  dari  Suradita, Cilenggang, Serpong  menuju bundaran rakyat  berbondong   sambil  menyerukan takbir. Lantas menyerang  pos  Belanda dekat tugu. Tak jauh dari tugu  banyak rumah orang Belanda.

Peperangan melawan Belanda terjadi selama satu hari. Rakyat yang tidak dibekali dengan persenjataan lengkap membuat tentara Belanda dapat mengalahkan mereka. Jenazah mereka yang mati karena  serta dalam perlawanan tersebut dikubur bersama di dalam satu liang besar yang akhirnya dikenal sebagai Makam Pahlawan Seribu, meski sesungguhnya yang mati sekitar 400 orang. 

Makam mereka di zaman Pesiden Soehato dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Seribu, dekat Taman Tekno.

Walau    TPRS yang kusam di bunderan  Serpong – Cilenggang – Cisauk, prasastinya masih bisa dibaca dan tetulis, "Tugu Peringatan Proklamasi 17 Agustus 1945 - Didirikan Pada Hari Selasa Djam 6 Petang Tgl 27 Desember 1949 (5 Maulud 1369) Rakjat Serpong." (TS/YP/ Kompas)