Harta Andika Terbesar, Warga Sinis

0

Empat Kandidat Gubernur Banten (Foto : Ist)



Cipasera.com -Komisi Pemilihan Umum (KPU) Banten telah mengumumkan harta kekayaan pasangan calon Gubernur Banten dan Wakil Gubernur Banten. Pengumuman tersebut diposting di  website resmi KPU Banten www.kpu-bantenprov.go.id . Posteng  tertanggal  28 November lalu.

Pengumuman  harta kekayaan ini  mengacu pada  Surat dari Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) Nomor B-9476/10-12/11/2016 tentang Pengumuman Laporan Harta Kekayaan Calon Kepala Daerah. Surat KPK tertanggal 16 November 2016 ini ditandatangani Pimpinan Divisi Pencegahan KPK Pahala Nainggolan.

Dalam suratnya  kepada Ketua KPU Banten,  KPK meminta agar Laporan Harta Kekayaan pasangan calon kepala daerah ini disampaikan ke publik.

Adapun  data harta kekayaan pasangan calon kepala daerah Provinsi Banten sebagai berikut:
Pasangan Nomor Urut 1 (Dr. H. Wahidin Halim, M.Si & H. Andika Hazrumy, S.Sos.,M.AP) :
Dr. H. Wahidin Halim, M.Si nilai total harta Rp. 17.942.004.193, sementara H. Andika Hazrumy, S.Sos.,M.AP nilai total harta Rp. 20.744.339.190,-

Pasangan Nomor Urut 2 (H. Rano Karno, S.IP & H. Embay Mulya Syarief) :
H. Rano Karno, S.IP nilai total harta Rp. 15.794.639.511,- dan USD 7.776, sedangnkan H. Embay Mulya Syarief nilai total harta Rp. 2.097.176.000,-

Seorang  warga yang dihubungi Cipasera.com mengatakan dengan agak kaget Andika Hazrumy menduduki urutan pertama alias terkaya. “Kaget aja, masih muda hartanya sudah Rp 20 miliar lebih. Harta darimana ya?” kata Dullah sinis, warga Kaujon, Serang. “ Lha WH yang tua aja kalah. Padahal dia sudah jadi pejabat puluhan tahun.”     

Sebelumnya,  Ketua  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  Agus Raharjo mencium adanya aroma korupsi yang dilakukan oleh penguasa Banten  sebelumnya untuk kepentinganPilkada Banten 2017. Penyidik pun tengah memantau dugaan tersebut.

Namun, ketika ditanya apakah korupsi tersebut dilakukan oleh keluarga Ratu Atut Chosiyah,  Agus Raharjo enggan menjawabnya. Dia hanya memberikan isyarat dugaan ini masih ada hubungannya dengan kasus korupsi di Banten yang pernah terjadi sebelumnya.

"Iya, tapi kita nunggu nanti aja. Sebetulnya ada kejadian sebelumnya. Saya monitor, kami punya radar di sini (Banten). Tapi itu agak besar," kata Agus Raharjo, saat  usai menjadi pembicara sebuah diskusi di Gedung PWNU Banten, Kota Serang, Sabtu (26/11/2016). (Ts/*)