Kampus SGU Dipagar, Mahasiswa Terancam Tak Bisa Kuliah

0


                               Mahasiswa SGU sedang kuliah. Senin terancam kuliah. (Foto: Ist)
Cipasera.com -Mahasiswa dan orang tua mahasiswa resah dengan penutupan lahan Kampus SGU tak jauh dari  Gedung Germany Center, BSD, Serpong, Tangsel, Minggu 18/12 oleh pihak pengembang PT BSD tbk,  yang mengerahkan security dan puluhan “jawara”. Sebab dengan ditutupnya lahan, mahasiswa tak punya akses masuk kampus.

“Kalau kami tak bisa masuk kampus, kuliah  kami jelas terganggu. Sementara kami sekarang sedang sibuk menghadapi ujian,” kata Edward, mahasiswa semester empat jurusan Management Bisnis. “Kami kuliah bayar mahal, kalau tak bisa ikut perkulihan apakah mereka mau tanggung jawab?”

Hal senada diungkap orang tua mahasiswa. “Harusnya PT BSD mempertimbangkan ada perkuliahan. Kalau tidak, BSD ingin merusak anak –anak kami yang kuliah di SGU.”

Mahasiswa dan  orang tuanya memang pantas khawatir. Sebab    PT Bumi Serpong Damai (BSD),  pengembang besar kawasan Serpong memagari lahan di sekitar kampus Swiss German University (SGU) yang berada di EduTown BSD City Kav II.1, BSD, Minggu (18/12/2016) dini hari.

Puluhan orang yang ikut bersama sekurity melakukan pemasangan pagar dikawal “jawara” pasar. Dengan kondisi demikian, puluhan mahasiswa SGU mencoba menghalang-halangi hingga terjadi kericuhan. Sejumlah aparat kepolisian berjaga-jaga di tengah massa kedua belah pihak. Pemasangan pagar oleh security BSD pada dini hari tadi sudah hampir menutup seluruh lokasi SGU.

Wakil Rektor II SGU, Boris Manurung menyebutkan, pemasangan pagar oleh pihak pengembang karena adanya persoalan sengketa tanah antara PT. BSD dengan SGU. Padahal, sengketa tanah tersebut saat ini masih dalam proses pengadilan dan belum terdapat putusan.

Adapun kronologi  sengketa awalnya SGU  institusi pendidikan tersendiri  menyewa gedung dan sebelum akhirnya menggunakan gedung yang ditempati saat ini.

Kampus SGU  berdiri tahun 2000. Saat itu, belum ada ikatan dengan PT BSD di bawah Sinar Mas Land. Pemilik kampus, Chris Kanter,  ada pembicaraan antar sahabat dengan owner PT BSD, Franky Wijaya. Saat itu  BSD  lagi ngebangun wilayah situ, ditawarin ke SGU dan SGU mau.

Director of Communication SGU Christie Kanter  kepada wartawan  Mei lalu mengatakan,  pihak SGU saat itu ditawari untuk membeli lahan milik PT BSD seluas sepuluh hektare yang pembangunannya dibagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pembangunan gedung perkuliahan dan sport hall.

Tahap pertama telah dikerjakan oleh PT BSD dan masih digunakan SGU sampai hari ini. Sedangkan, tahap kedua yang adalah pembangunan gedung serba guna dan gedung untuk administratif kampus, belum direalisasikan oleh PT BSD. Hal itu dikarenakan berdasarkan perjanjian di awal, SGU harus membayar harga lahan dan biaya pembangunan untuk tahap satu dan dua secara sekaligus.

Sejak tahun 2010 pun, SGU resmi pindah dari gedung German Center ke gedung barunya yang telah dibangun oleh PT BSD. Lokasi gedung itu berdekatan dengan kampus Prasetya Mulya.

Dari tahun 2010 hingga 2013, pihaknya belum juga membayar kepada PT BSD atas pembangunan gedung yang mereka tempati. Menurut Christie, mereka baru akan membayar jika sudah dibangun dua gedung lainnya yang disebutkan dalam perjanjian awal antara Chris dengan Franky.

Masalah dimulai di tahun 2013. Pihak Sinar Mas Land mengirim surat penagihan. Pada MoU (Memorandum of Understanding) dijelaskan, kami harus membayar dari tahun ke satu sampai tahun ke tujuh sejak ditempati. Karena tahap kedua belum jadi, SGU mau bayar.

Pihak SGU tetap dengan pendirian bahwa mereka baru akan membayar lunas jika pembangunan tahap kedua telah rampung. Sedangkan PT BSD yang sudah membangun tahap pertama terlebih dahulu disebut ingin meminta pembayaran kepada SGU atas lahan dan gedung yang telah mereka tempati. Singkatnya, PT BSD membawa ke persoalan hokum, menggugat di pengadilan. Sudah disidangkan. Namun belum ada putusan. Lalu secara sepihak PT BSD melakukan pemagaran.(Ts/Km)