Kisah Perjalanan Duta Besar Kesultanan Banten Ke Inggris 1682

0

Dua gambar  duta besar Banten Yg Pergi Ke Inggris.
Cipasera.com- Kesultanan Banten pernah melakukan langkah diplomatik yang sangat cerdas dan menarik, yakni mengirim dua diplomat ulungnya ke Inggris. Dua diplomat tersebut  yakni  Kyai Ngabehi Naya Wipraya dan Kyai Ngabehi Jaya Sedana. 

Selama tiga setengah bulan  duta besar berada di Istana Windsor  disertai dengan 29 orang pengawal yang terdiri dari ahli bahasa hingga juru masak. Dan mereka disambut hangat oleh Ratu Inggris dan pejabatnya.

Namun sekembalinya dari Inggris, misi yang dibawanya berantakan lantaran kesultanan Banten retak. Ayah dan anak berperang memperebutkan kerajaan, yakni antara Sultan Ageng Tirtayasa yang menolak Belanda versus Sultan Haji Putranya yang pro Belanda.

Sultan Ageng Tirtayasa  menjadi Sultan Banten menggantikan Sultan Abdul Mufakhir 1651 yang wafat. Di bawah  Tirtayasa jelang  abad ke-17, Banten mencapai masa keemasan. Namun hubungan dengan Belanda makin tegang lantaran Tirtayasa tak mau kompromi dengan penjajah kafir itu. Justru ia makin memperkuat mental pendukungnya.

Sultan Ageng Tirtayasa yang ahli strategi perang  mendatangkan guru-guru agama dari Arab, Aceh, Makassar, dan daerah lainnya. Perhatiannya yang besar pada perkembangan pendidikan agama Islam juga mendorong pesatnya kemajuan agama Islam selama pemerintahannya.

Sultan Ageng Tirtayasa  pun berhasil membuka perdagangan dengan sejumlah Negara Eropa.  Maka pelabuhan Banten yang semula diblokade VOC perlahan namun pasti mulai pulih, terbuka bagi siapa saja. Perdagangan dengan bangsa  Eropa lainnya, seperti Inggris, Perancis, Denmark, dan Portugis yang notabene merupakan pesaing berat VOC, terjalin dengan Banten. 

Pengiriman diplomat ke Inggris adalah salah satu taktik Tirtayasa untuk memperkecil penagruh Belanda dengan VOC-nya. Belanda vs Inggris adalah rivalitas dalam perdagangan dan politik luar negeri mereka.

Strategi ini  tak hanya berhasil memulihkan perdagangan Banten namun sekaligus memecah konflik politik dengan VOC  menjadi persaingan perdagangan antar bangsa-bangsa Eropa.

Selain itu,  Sultan Ageng Tirtayasa gigih berupaya juga untuk memperluas pengaruh dan kekuasaan ke wilayah Priangan, Cirebon, dan sekitar Batavia guna mencegah perluasan wilayah Mataram yang telah masuk sejak awal abad ke-17. Selain itu juga mencegah pemaksaan monopoli perdagangan VOC yang tujuan akhirnya adalah penguasaan secara politik terhadap Banten.

VOC pun merasa terancam. Pada  1655 VOC  mengusulkan kepada Tirtayasa  agar melakukan pembaruan perjanjian yang sudah hampir 10 tahun dibuat oleh kakeknya pada tahun 1645. Dengan berkelit, Tirtayasa mengatakan kepada Belanda, taka da yang perlu diperbarui. Perjanjian yang lama masih relevan.

Konflik  dengan VOC tak mengahalangi  Sultan  melakukan upaya-upaya pembangunan dengan membuat saluran air untuk kepentingan irigasi sekaligus memudahkan transportasi sungai dan laut.Upaya itu tersebut tampaknya punya dua sisi. Untuk kesejahteraan tapi juga persiapan perang.

Usaha Sultan Ageng Tirtayasa baik dalam bidang politik maupun bidang pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain semakin ditingkatkan. Pelabuhan Banten makin ramai dikunjungi pada pedagang asing dari Persia, India, Arab, Cina, Jepang, Filipina, Melayu, Pegu, dan lainnya. Demikian pula dengan bangsa-bangsa dari Eropa yang bersahabat dengan Inggris, Prancis, Denmark, dan Turki.

Sultan Ageng Tirtayasa telah membawa Banten ke puncak kejayaannya, di samping berhasil memajukan pertanian dengan sistem irigasi ia pun berhasil menyusun kekuatan angkatan perangnya yang sangat disegani, memperluas hubungan diplomatik, dan meningkatkan volume perniagaan Banten sehingga Banten menempatkan diri secara aktif dalam dunia perdagangan internasional di Asia.

Mengirim Duta Besar  ke Inggris.

Menurut  Mrs. Fruin Mess (1923), seorang ahli Hubungan Internasional , Dua Duta besar Kesultanan  Banten pernah berkunjung  ke London pada 1682. Potret dua Duta Besar Banten ini ada di Museum Mankind di London. Kedua duta besar itu bernama Kyai Ngabehi Naya Wipraya dan Kyai Ngabehi Jaya Sedana. Mereka menjadi tamu Raja Inggris, Charles II, selama tiga setengah bulan di Istana Windsor.

Fruin  selanjunya menguraikan, Kyai Ngabehi Naya Wipraya, yang dalam bahasa Inggris ditulis Kaia Nebbe Nia Via Praya. Dalam kunjungan ini, kedua duta besar ini diiringi rombongan berjumlah 31 orang dengan membawa persembahan berupa 200 karung lada, perhiasan permata dan intan, serta emas berukir burung merak.

John Evelyn dalam catatan hariannya menulis tentang duta bessar dari Banten yang waktu itu diundang ke tempat kediaman resmi Lord George Berkeley (sekarang bergelar Earl). Saat itu di London sedang berlangsung penerimaan tamu kehormatan Duta Besar Rusia, Maroko, dan India.

Salah satu dari dua duta besar itu merupakan duta besar utama, sedangkan yang kedua rupanya dikirim untuk menjadi  pengganti, seandainya dua besar yang pertama meninggal dalam pelayaran yang berbahaya.

Dari kabar yang berhasil dicatat, rombongan duta besar Banten pernah ke Mekah. Maka dari itu kedua duta besar ini memakai sorban dengan gaya Turki dan Arab.

Pelayaran Banten-London ditempuh bersama rombongan selama lima bulan melewati Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Perjalanan ini sangat sulit dan berbahaya. Akan tetapi kapal layar yang ditumpangi utusan dari Kesultanan Banten pada masa itu tiba dengan selamat di tujuan tanpa mengalami hambatan.

Rombongan itu berangkat pada 10 November 1681 dengan menumpang kapal danga East India Company  yang bernama New London. Tiba di London pada 27 April 1682. Seorang anggota rombongan yang menjadi juru masak meninggal dunia, dan dimakamkan di tempat pemakaman di Saint James Park, berseberangan dengan Hyde Park.

Pada 5 Juli 1682 kedua duta besar Banten beserta rombongan meminta izin untuk kembali ke Banten. Mereka diberi gerlar Sir oleh Raja CharlesII, lengkap dengan pedang kehormatan. Rombongan dari Banten ini naik kapal Kemphorne dari Pelabuhan Chatham, dan mulai berlayar pada 23 Agustus 1682. Mereka tiba di Banten pada 20 Januari 1683. Sayang, saat mereka tiba kondisi Banten sedang kacau. Sultan Ageng  Tirtayasa  berseteru dengan Sultan Haji, Putranya. Putranya yang didukung Belanda dan Belanda mengirim Kapten Tack untuk membantu Sultan Haji. Dan Sultan Ageng terdesak.  (Red/T/Berbagai sumber)