Seorang Direktur Demi Cintanya Sudah Tidur di Kuburan 2 Tahun

0
Abah Wid dan cintanya. (foto :Jppn)
Cipasera.com - Di tengah masyarakat yang rasionalitas, cinta sejati kepada pasangannya dianggap hanya ada pada dongeng, novel atau legenda. Namun,  kisah H. Widodo (67) yang tidur bertahun di samping kuburan istrinya, mungkin memberikan gambaran kisah cinta yang berbeda yang ada di dunia nyata.
Widodo sejatinya tergolong warga terpandang. Dia adalah Direktur Akademi Keperawatan (Akper) Baitul Hikmah, Kemiling, Bandarlampung. 
Jabatannya menunjukan dia tergolong  orang yang punya daya nalar rasional. Namun saat kekasih hatinya dipanggil Yang Kuasa, ia tak mau pisah. Tingginya rasa cinta terhadap sang istri, membuat pensiunan PNS provinsi Lampung ini memutuskan tinggal di samping pusara belahan hatinya. Ia membuat tenda terbuka tempat ia beraktivitas. Rapat dengan karyawan, membaca dan tidur menghabiskan malam.
Dan kehidupan semacam itu dimulai sejak 29 Juli 2015, setelah Hj Damsi Hemas, istrinya dikuburkan di pemakaman keluarga.
Di tenda berukuran 4 x6 m itu, Abah Wid - demikian ia biasa disapa meletakan balai kayu sederhana untuk tidur. Disitu ada pula lemari.Lemari itu terbagi menjadi empat loker. Setiap loker berfungsi berbeda-beda, yang di dalamnya terdapat sejumlah berkas dan data Akper Baitul Hikmah.
Abad Wid sangat betah berada di makam sang istri meski tak jarang dinginnya udara malam menusuk  tulang. Hanya kumandang azan yang membuatnya tergeser dari makam tersebut. Itu pun tak jauh dari makam sang istri. Sebab, letak mushala tempat biasa dia menunaikan ibadah shalat hanya berjarak sekitar 20 meter 
’’Istriku adalah bagian dari diriku. Tak bisa dipisahkan. Dengan berada didekatnya saya merasa lengkap dan nyaman,” kata Abah Wid sambil memandang makam sang istri.
Abah Wid menikah dengan Hj Damsi dilalui dengan perkenalan. Tapi sejak pandangan pertama mereka sudah langsung jatuh cinta. Maka tak lama kemudia mereka nikah. 
Pernikahan dikaruniai empat orang anak. Masing-masing adalah Endah Widia Sari, dr. Dian Widia Sari, dr. M. Sirojudin, dan dr. Yayu Rahmawati. 
Dari keempat putra putrinya, ia telah memilih anak ketiga yang akan mewarisi posisi Direktur Akpera. M. Sirojudin kini sudah mulai belajar duduk di posisi itu meski belum resmi mengemban amanah tersebut.
Meski memilih tinggal di makam, Abah Wid tetap sesekali berperan mendampingi  M. Sirojudin sebagai calon Direktur Akper. Uniknya, masih tetap di bawah tenda makam itu juga ia sesekali menggelar rapat dengan sejumlah karyawan Akper.  
Selama ada di samping makam sang istri, Abah Wid selalu ditemani sebuah Alquran. Dirinya membacakan ayat demi ayat berikut terjemahannya dengan nada lirih. Sesekali, dia menyetel sebuah televisi yang juga berada di dalam tenda tersebut. Tapi tv tersebut untuk menyetel video nasyid atau lantunan ayat-ayat suci Alquran. 
Abah Wid dengan terharu bercerita,  sang istri meninggal dunia setelah mendapat perawatan atas sakit paru-paru yang diderita. Dari awal pernikahannya, dia mengetahui istrinya memiliki penyakit asma
Namun, kebahagian perkawinan mereka berhasil menjadi obat mujarab bagi sang istri. Alhasil, sangat jarang penyakit itu muncul mengganggu kesehatan istrinya.
Akan tetapi, takdir memang tidak bisa dilawan. Medio Juli 2015 sang istri tiba-tiba jatuh sakit. Saat menjalani pemeriksaan, ternyata ada sebuah flek di paru-parunya. Dan tak lama menghadap sang ilahi.
Semula keputusan Abah Wid untuk tinggal bersebelahan dengan makam istri mendapat tentangan dari anak-anaknya. Anak anaknya khawatir dengan kesehatan dan keadaannya. Namun itu tak sanggup menghentikannya  terus tinggal berdampingan dengan makam sang istri.
’’Sampai kapan tinggal disini? Sampai ajal menjemputnya," kata Abah Wid sendu. (Red/TS/berbagai sumber)