Pertunjukan Teater Tetas : Moralitas Banal Banowati

Banowati, cinta membawa mati (foto: tow)
Cipasera.com - Setelah sibuk pentas di beberapa negara, Teater Tetas Jakarta kembal pentas 11 - 12 Agustus lalu,  di Auditoriun Gelanggang Remaja Jakarta Selatan.

Seperti pentas -pentas sebelumnya, kali ini Teater Tetas juga mengangkat naskah yang diambil dari cerita wayang:  Banowati. Hanya saja, naskah Banowati yang ditulis oleh AGS Arya Dipayana tidak persis seperti "pakemnya". AGS hanya mengambil ide ceritanya. Alhasil,  Banowati yg "klasik" diciptakan pendirii Teater Tetas ini, seperti hadir  berkisah tentang hati perempuan masa kini. Hidup dalam rumah tangga dengan suami, namun hatinya terpaut pria lain. Istilah kekiniannya, wanita yang menduakan cinta. Memiliki PIL (Pria Idaman Lain).

Pertunjukan selama satu jam 20 menit ini dibuka dengan bagus. Sang Waktu membuka wacana, soal yang dihadapi Banowati, moralitas yang terbentur kenyataan. Lalu silih berganti, Sepi dan Hati saling berdialog. Kadang mencibir, menggugat juga menasehati.

Banowati boleh jadi adalah wanita keras kepala, kekeuh pada hatinya yang mencintai Arjuna. Jangankan gugatan Sepi, ibunya sendiri pun nasehatnya tak dipedulikan.

Akibat itu semua, cintanya kepada Arjuna menimbulkan kemarahan Aswatama, petinggi Astina. Ia tampil membalaskan penghianatan Banowati kepada Duryudana, Sang Raja. Banowati lalu ia bunuh. Dan ia mati membawa cintanya terhadap Ajuna.

Secara keseluruhan, pertunjukan Tetas ini berhasil baik. Ritme terjaga. Dialog satu tokoh ke tokoh lain hidup. Gerak tubuh dan tari rapi. Demikian tata cahaya, mampu memberi penegasan situasi  yang subtil. Singkatnya, ruh pertentangan moralitas kesetiaan  Banowati, secara filosofis dan sosiologis tercapai.

Barangkali, kalau ada yg agak sedikit "nyimpang" mungkin musik. Sering terasa ada bunyi-bunyi yg artifisial, tak mengekspresikan suasana. Namun itu semua tak menggangu keseluruhan pertunjukan. Tak heran, saat pertunjukan usai penonton pun memberi standing aplause cukup lama.

Haris Syaus, memang pantas dapat apresiasi, sekaligus pantas menggantikan AGS Arya Dipayana sebagai sutradara. AGS pendahulunya  kini  sudah almarhum beberapa tahun lalu.

Pertunjukan Banowati didukung, antara lain,  Artasya Sudirman (Banowati), Putri Ayudya, Khiva Iskak, Derry Oktami (Duryudana),  Yohana Gabe, Diana R. Jannah, Armand Wiriadinata, Tamimi Rutjita, Iqbal Samudra, Rasha, Falentino Andri, Joseph, Rita Mandasari, Aryaka, Rosita, dan Stephanie Jasmine.

Ikut pula, kreografer kawakan Elly Luthan dan Boby Ari Setiawan sebagai penata gerak dan busana, penata musik Nanang Hape, dan penata artistik Sugeng Yeah.

Sebelumnya, naskah Banowati pernah dipentaskan sekitar sepuluh tahun yang lalu dengan sutadara AGS Arya Dipayana; di Pusat Kebudayaan Jepang, Gedung Sumitmas, Teater Utan Kayu, dan Teater Dalam Gang Tuti Indra Malaon.

Rencanananya setelah pentas tiga hari lalu, Banowati akan dipentaskan September 2017 ini di Solo, Jawa Tengah. (TOW)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel