Jendral S Parman Dibunuh PKI Didalangi Kakaknya

0
Letjen S.Paman (Foto:ist)

Cipasera.com - Inilah kisah tragis Letnan Jenderal Anumerta S.Parman. Jendral cemerlang ini dibunuh PKI, salah satu dalangnya adalah kakaknya sendiri yang pengurus teras PKI.

Siswondo Parman atau kita kenal sebagai salah satu pahlawan revolusi Letjen (Anumerta) S. Parman, dilahirkan di Wonosobo, Jawa Tengah pada tanggal 4 Agustus 1918.

Ia anak keenam dari sebelas orang saudara. Ayahnya bernama Kromodihardjo, seorang pedagang. Sedangkan kakaknya Ir. Sakirman lahir pada tahun 1911. Sakirman adalah Penasehat PKI Pusat.

Nenek moyang S. Parman  memang orang Wonosobo. Eyang buyutnya adalah Sayid Umar Sutodrono,  satu senapati Pangeran Diponegoro yang setelah kekalahannya pada tahun 1830, hijrah ke Kota Wonosobo dan mendirikan Kampung Sudagaran (dari kata Saudagar/pedagang).

Meskipun Kromodihardjo hanyalah seorang pedagang di Pasar Wonosobo, beliau mewajibkan anak-anaknya untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya. Parman menyelesakan pendidikan di HIS (Hollandsch Inlandsche School) atau Sekolah Dasar Belanda di Wonosobo.

Kemudian ia melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebried Lager Onderwijs) atau Sekolah Menengah Pertama di Yogyakarta. Seharusnya ia melanjutkan ke AMS (Algemeene Middelbare School), sekolah yang setara dengan SMA saat ini. Namun ayahnya meninggal dunia pada tahun 1937, sehingga hampir dua tahun Parman tidak bersekolah. Untuk mengisi waktu ia membantu ibunya berdagang di Pasar Wonosobo.

Setelah itu Parman kembali melanjutkan ke AMS.

Tamat dari situ, ia masuk ke Sekolah Tinggi Kedokteran (STOVIA) di Jakarta. Parman mengikuti keinginan ayahnya dahulu untuk masuk sekolah kedokteran, padahal sebenarnya ia ingin masuk Sekolah Tinggi Hukum.

Sekolah Parman kembali terhambat, ia tidak menyelesaikan sekolah kedokterannya karena invasi Jepang tahun 1942. Suatu hari ketika Parman tengah berada di Wonosobo, ia bertemu polisi militer Jepang, Kempetai.

Mereka membutuhkan seseorang yang bisa berbahasa Inggris sebagai penterjemah. Mulai saat itu, Parman yang fasih berbahasa inggris mengikuti Kenpetai hingga ke Yogyakarta.

Meski membantu Jepang, rasa nasionalisme Parman tetap tinggi. Ia terus berhubungan dengan teman-temannya yang berjuang diam-diam untuk melawan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk.

Parman memilih dunia militer sebagai tempat pengabdiannya pada negara. Selama Agresi Militer II, Parman ikut begerilya di luar kota. Usai agresi, Parman bahkan sempat mengenyam pendidikan di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Breda, Belanda (semacam AKMIL).

Dari pemuda-pemuda Indonesia yang memiliki jiwa nasionalis terbentuklah berbagai barisan pemuda bersenjata, di antaranya yang secara resmi dibentuk oleh Pemerintah RI adalah BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang kemudian hari berkembang menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

S. Parman membentuk BPU (Badan Pengawas Undang-Undang) dengan pemuda Indonesia lainnya ketika ia masih bekerja sebagai staf di Kempetai. BPU mempunyai peranan yang besar dalam mengadakan gerakan-gerakan untuk mengambil alih kantor-kantor sipil, gedung-gedung resmi, pengibaran Sang Merah Putih dan yang terpenting melucuti senjata Jepang secara berencana dan dengan kekerasan.

Selama revolusi S.Parman ikut dalam perjuangan menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negaranya. Dalam rangka inilah maka S.Parman memasuki bidang kemiliteran dalam pengabdiannya, khususnya pada TNI. Karier nya mulai berkembang ketika menjadi Polisi Militer.

S. Parman telah memiliki banyak jabatan hingga menjadi  Perwira Menengah diperbantukan pada Kementrian/Kepala Staf Angkatan Darat, sebagai Asisten I bidang Intelijen dan pangkatnya menjadi Brigadir Jenderal terhitung mulai tanggal 1 Juli 1962. Karir Parman terus menanjak, ia kemudian diangkat menjadi Asisten I Men Pangad bidang Intelijen dengan pangkat Brigadir Jenderal. Pada Agustus 1964, pangkatnya dinaikkan lagi menjadi Mayor Jenderal.

Pada waktu memegang jabatan sebagai Asisten I bidang Intelijen, pengaruh PKI sudah meluas ke hampir seluruh bidang kenegaraan. Lawan utama PKI adalah Angkatan Darat. PKI menyebar opini publik bahwa AD berniat menggulingkan kepemimpinan Presiden Soekarno.

Oleh karena itu, PKI mendesak Presiden membentuk Angkatan Kelima. Anggotanya adalah buruh dan tani yang dipersenjatai. Parman adalah salah satu pihak yang paling keras menolak rencana pembentukan Angkatan Kelima.

Penolakan serta posisinya sebagai pejabat intelijen  ia pun jadi incaran PKI. Sehingga dini hari tanggal 1 Oktober 1965 beliau diculik gerombolan G30S/PKI yang dipimpin Serma Satar dari Resimen Tjakrabirawa.

Di Lubang Buaya, setelah disiksa dengan kejam, ia akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Jasadnya baru ditemukan tanggal 4 Oktober 1965 dan dimakamkan tanggal 5 Oktober 1965 di TMP Kalibata.

Salah satu otak penculikan S.Parman tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri, Ir. Sakirman yang merupakan petinggi di Politbiro CC PKI (semacam Dewan Syuro atau Dewan Penasihat Parpol sekarang).

Tapi ada versi lain yang menyatakan,  bahwa Sakirman, meskipun telah merencanakan menculik Parman tapi kemudian berubah pikiran. Ia berusaha menghubungi adiknya, sayang gagal.

Sedikit flash back, tahun 1948, Parman sempat dipenjara karena kesalahpahaman dengan Jendral Gatot Subroto ketika kakaknya, Ir. Sakirman terlibat dalam pemberontakan PKI di Madiun pada 19 September 1948.

Saat itu, sebagai Kepala CPM Markas Besar Komando Jawa tidak tahu dimana keberadaan kakaknya. Ia dituduh menyembunyikan Sakirman dan membantu pihak pemberontak.

Parman sempat dimasukkan ke penjara Wirogunan, Yogyakarta untuk kemudian dibebaskan kembali dan nama baiknya direhabilitasi. Nasib Ir. Sakirman sendiri tidak jelas, ada yang bilang insinyur lulusan ITB itu ditangkap RPKAD dan langsung dieksekusi. Ada juga yang menyatakan bahwa ia melarikan diri ke Russia atau China.

Jenderal S Parman menikah dengan Sumirahayu. Perkawinan pada 1965 baru berusia 14 tahun  dan tanpa dikaruniai keturunan.

Seperti dikutip dari buku ‘Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965’. Jenderal Parman pada suatu ketika,  berpesan pada sang istri,  jika nanti dirinya ingin dikebumikan di TMP Kalibata.

“Wah, Ini Taman Makam Pahlawan! Tempat bahagia bagiku, Jeng. Jangan lupa ya, kalau aku gugur supaya bisa dimakamkan di sini. Jangan lupa pula supaya pada kijingku (batu nisan), nanti ditulis ‘Pejuang Sejati’,” ucap Jenderal Parman kepada istrinya ketika berada di depan TMP Kalibata.

Isyarat aneh lain yang dirasakan istri Jenderal Parman adalah ketika suaminya tiba-tiba menyuruh Sumirahayu untuk jalan-jalan ke luar kota, seperti ke Cibubur atau ke Cisalak.

Begitu juga ketika Jenderal Parman sempat mengajak istrinya pelesiran ke Bogor. Suatu perilaku ganjil lantaran selama ini Jenderal Parman bukan sosok yang gemar tamasya.

Hal lain yang tak kalah aneh adalah ketika pada 30 September1965, tepat jam 12 malam, Jenderal Parman dan istri keheranan dengan kedatangan kawanan Burung Gereja dan Burung Sriti di kamar tamu rumah mereka, Jalan Serang Nomor 32, Menteng, Jakarta Pusat.

“Lho kok banyak sekali burung gereja di kamar tamu itu?” tanya Jenderal Parman yang segera dijawab singkat istri, “Ah, sudahlah. Tidur saja”.

“Lho, sekarang banyak Burung Sriti?,” tanya Jenderal Parman lagi keheranan. Keganjilan itu seolah jadi pertanda. 1 Oktober 1965 subuh sekira pukul 04.00, pasutri yang kala itu sudah terbangun dari tidurnya dikagetkan dengan kedatangan 20 personel Tjakrabirawa.

Jenderal Parman diminta menghadap Panglima Tertinggi dan ketika berganti pakaian di kamar, gerombolan Tjakra itu mengikuti ke dalam kamar. Pesawat telpon di rumahnya pun turut diambil dan seketika itu juga, Jenderal Parman mulai sadar bahwa nyawanya terancam.

“Lho kok telpon saya diambil? Lho, saya ini difitnah?” cetus Jenderal Parman. “Oh, tidak Pak,” jawab seorang dari mereka.

Jenderal Parman pun dibawa dan sang istri sama sekali tak tahu ke mana suaminya dibawa pergi. Tak lama kemudian, istri Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono datang dengan menangis sembari bertanya tentang keberadaan Jenderal Parman.

Istri Jenderal Parman pun menjelaskan bahwa suaminya telah dibawa gerombolan Tjakra yang ternyata kejadiannya sama dengan yang dialami keluarga MT Harjono.

“Jeng, jangan menangis. Kuatkan imanmu. Sebagai istri perwira, kita harus tabah dan kuat,” tuturnya kepada istri MT Harjono yang Suaminya juga turut dibunuh PKI. (Kivlan Zein Fans)