IPW Khawatir, 2018 Banyak Polisi Bunuh Diri

0

Polisi berjaga di TKP bunuh diri (foto: Ist)
Cipasera - Dalam pantauan Indonesia Police Wacth (IPW), polisi banyak mengalami stres yang berakibat bunuh diri di tahun 2017. Setidaknya ada tujuh kasus. 
Menurut Neta S.Pane, kasus bunuh diri tersebut ini mengindikasikan betapa beratnya beban dan tekanan yang mereka hadapi. Sehingga mereka tak bisa lagi berpikir realistis dan cenderung mengambil jalan pintas, dengan cara menembak kepalanya sendiri.
"Kasus ini juga menunjukkan tingkat kesadisan yang luar biasa, yang mampu mereka lakukan terhadap dirinya sendiri," kata Neta
Neta menguraikan, dari tujuh kasus bunuh diri itu dua di antaranya dilakukan anggota Brimob karena persoalan yang sangat sepele. Yakni karena stres dijadikan saksi yang ini dialami Bripka Teguh Dwiyanto di Tangerang Selatan dan Ipda Sasmidias di Palu diduga karena terlalu lama bertugas di daerah konflik.
"Penyebab para polisi itu bunuh diri sebagian besar akibat masalah keluarga, ada empat kasus. Kemudian konflik dengan rekan kerja," kata dia. "IPW berharap Polri mengantisipasinya. Sebab bila tidak dikhawatirkan  2018 kasus polisi bunuh diri akan meningkat."
Polisi Bunuh Diri 2017
- 1 Desember 2017, Brigadir Marchel J Tanipa anggota Polres Pulau Aru Maluku tembak kepalanya di depan mertua.
- 10 Oktober 2017, Bripka Bambang Tejo anggota Polres Blora Jateng tembak kepalanya sendiri setelah menembak mati dua rekannya.
- 9 Oktober 2017, Bripda Azan Fikri anggota Polsek Sungai Lilin Sumsel tembak kepalanya setelah batal nikah.
- 7 Juni 2017, Aiptu Fransisco De Araujo anggota Polres Kupang NTT tembak kepalanya di rumahnya.
- 15 Mei 2017, Bripka Teguh Dwiyanto anggota Brimob tembak pelipisnya di Tangerang Banten karena jadi saksi kasus penembakan.
- 3 April 2017, Ipda Sasmidias anggota Brimob tembak kepalanya di toilet mesjid di Palu, Sulteng.
- 26 Januari 2017,  Bripda Saka Rawan Putra anggota Polda Sumsel gantung diri di rumah temannya.(red/ts/viva)