Zaman Now Butuh "Industri Kesepian

0


Oleh Dr dr Handrawan Nadesul

Benar. Sudah sejak awal 80-an ada gejala orang di dunia menderita kesepian dalam hidupnya. Terlebih mereka yang sudah berusia senior. Maka bermunculan aktivitas yang tergolong sebagai bisnis industri kesepian atau loneliness industry.

Budaya Barat yang lebih berisiko membawa orang dalam kehidupan yang menjadikan mereka merasa kesepian. Kendati kehidupan tampak hiruk-pikuk, tampak hingar-bingar dengan segala kemajuan, dan perangkat kehidupan yang serba modern dan otomatik, namun orang tetap berisiko merasa kesepian.

Di tengah kegaduhan itu, orang bisa saja merasa kesepian. Penyebabnya karena orang semakin kehilangan komunitas. Tak ada tegur sapa, tak ada yang membuat kita merasa ada.
Terlebih orang dengan strata atas, punya rumah besar, hidupnya berlimpah, namun hidup hanya berdua, atau seorang diri, karena anak-anak sudah keluar rumah dan sibuk sendiri. Teman-teman sudah banyak yang hilang, semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Padahal ada studi yang bilang, menjadi panjang umur, staying alive, bila kita punya komunitas, hidup masih merasa guyub.

Dalam guyub masih ada kesempatan saling berbagi, saling memberi, dan kita masih merasakan sebagai manusia yang diterima, dihargai, dan disentuh. Mesin dan musik tidak memiliki ruh yang membuat kita lebih tersentuh seperti kalau kita sedang bercengkerama. Sekali lagi kita menjadi kesepian karena kita kehilangan komunitas.

Makin tua umur kita, makin banyak komunitas kita yang hilang. Teman dan sahabat lama, tetangga, bahkan keluarga handai taulan serta kerabat kita sendiri, semua sudah undur dari kehidupan kita. Kita butuh komunitas yang baru. Mimpi saya membangun Senior Healthy Living di Bali, juga ingin menjembatani mereka yang mulai merasa kesepian dalam hidupnya.

Gejala yang umum terjadi di kota besar, para pensiunan pejabat negara, orang kecukupan, konglomerat, pada usia pensiunnya hanya duduk seorang diri di rumah yang maha besar. Juga kalangan profesional yang sudah lelah mengais, dan sudah mendapatkan semuanya dalam hidupnya, namun hatinya sunyi. Siapa menghiburnya? Sesekali cucu hadir, tapi tidak selamanya. Mendengarkan musik, menonton televisi, masuk gedung bioskop, hanya penghiburan sejenak. Senang kalau ada tamu datang, ada teman lama mengajak berbicara. Namun itu hanya sejenak.

Industri kesepian juga menyediakan layanan online bagi mereka yang tidak lagi memiliki siapa pun untuk diajak berbicara. Kasus bunuh diri yang makin banyak sekarang, karena pada saat semua mendesak menyudutkan orang merasa tidak berharga, tidak ada gunanya hidup, karena hidup semakin tidak bermakna, maka dorongan ingin mengakhiri hidup itu kian meronta. Pada saat itu perlu ada orang lain, ada pihak yang mendengarkan. Layanan online atau pihak yang tulus mau mendengarkan keluh-kesah dan rasa bosan hidup, bisa menyelamatkan orang dari rasa sunyi dalam hidup.

Maka berbahagialah mereka yang punya komunitas, yang masih bisa guyub, pergi bareng, makan bareng, dan menikmati hidup selepas-lepasnya. Komunitas bisa kita ciptakan sendiri, atau kita secara aktif memasuki wilayah nyaman itu, tanpa perlu diundang supaya hidup kita masih bisa, dan menjadi bermakna. Meaningless life yang bikin hidup kita menjadi sia-sia, dan percuma.

Salam sehat,

Dr dr Handarawan adalah dokter ahli, penyair dan penulis