Anda Hipertensi? Sebaiknya Punya Tensimeter Sendiri di Rumah

0


Pengidap hipertensi idealnya punya tensimeter sendiri di rumah. Kita tahu tensi darah itu fluktuatif dari hari ke hari, bahkan dari jam ke jam. Variabel tensi ini yang perlu dicermati, sehingga rutin minum obat setiap hari tanpa mengecek berapa tensi terlebih dulu tidaklah bijak, dan perlu dipertimbangkan ulang.

Bahwa mengukur tensi darah itu sejatinya, pagi hari saat baru bangun tidur, sebelum beraktivitas apapun. Itulah nilai murni tensi darah kita saat itu. Dan kalau tensi yang biasanya lebih dari normal, saat diukur ternyata normal, tidak ada alasan untuk tetap rutin minum obat.

Tensimeter ada dua. Yang manual dan yang elektrik. Dua-duanya sama baiknya selama berfungsi normal. Ihwal mengukur tensi darah juga ada tata aturannya. Seberapa tekanan pembebat tensimeternya, di mana posisi tepat meletakkan pembebat pada lengan atas (5 Cm di atas lipatan siku), bagaimana memompa yang betul, yakni mulai dari air raksa paling bawah, memompa secara bertahap, kalau diulang, perlu air raksa di posisi terbawah lagi. Bila tak tepat caranya, belum tentu tepat hasil pengukurannya. Dalam memonitor tensi darah orang yang sama sebaiknya memakai tensimeter yang sama. Mengukur yang betul itu posisi baring. Beberapa jenis hipertensi berbeda nilainya untuk lengan kiri dan kanan, selain berbeda pula pada posisi tubuh berbeda.

Yang terjadi, orang-orang, kebanyakan diukur pada saat yang tidak tepat, siang hari setelah beraktivitas, setelah emosi, setelah badan lelah, ketika antre lama di praktik dokter. Barang tentu nilai tensinya lebih tinggi, dan tidak semurni bila diukur pagi hari saat baru bangun tidur. Hal lain, apakah tensimeternya selalu rutin ditera, sekurangnya satu-dua tahun sekali, untuk menetapkan, sebagaimana timbangan berat di pasar, perlu ditera, agar hasilnya masih dipercaya. Namun kenyataannya, tensimeter yang dipakai sering sudah usang, dan tidak pernah ditera, dan atau cara mengukurnya pun belum tentu sesuai aturannya.

Selain itu ada perbedaan pengukuran sendiri di rumah dengan bila diukur di rumah sakit. atau oleh dokter. Kondisi dan situasi memengaruhi hasil pengukuran. Ada orang-orang yang peka bila menghadapi situasi rumah sakit atau dokter yang disebut white coat tension, takut kalau berhadapan dengan orang berjas dokter. Tensinya selalu lebih dari semestinya. Maka tentu salah kalau menetapkan status orang ini hipertensi hanya dengan satu kali pengkuran. Perlu diulang dengan membangun suasana lebih tenang, diminta berbaring beberapa saat, baru diukur.

Untuk menetapkan seseorang hipertensi protokolernya diukur tiga kali berturut-turut, pada hari berbeda, dengan tensimeter yang sama, memberikan hasil yang sama, baru status tensinya didiganosis.

Konsekuensi menetapkan seseorang hipertensi dari cara dan protokoler pemeriksaan yang kurang tepat, menjadikan orang harus minum obat hipertensi untuk sesuatu yang tidak perlu, hanya karena misdiagnosis, atau overdiagnoses. Dinilai hipertensi padahal sebetulnya tidak.

Perlunya mengukur tensi setiap pagi, dengan cara yang tepat, dengan tensimeter yang sama, untuk menetapkan apakah obat hipertensi perlu diminum setiap hari. Bila pada hari tensi yang biasanya lebih tinggi, ternyata tidak meninggi, tidak ada alasan untuk minum obat. Ingat tensi darah juga dipengaruhi oleh irama biologis harian tubuh (sirkadian), bahkan dari jam ke jam.

Apabila obat tetap diminum rutin setiap hari, padahal tensi darah tidak meninggi, bisa saja terjadi serangan stroke, yang kita sebut stroke hypotension (Lihat Foto di atas). Kita tahu, stroke umumnya terjadi bila tensi darah mendadak melonjak tinggi. Namun jangan lupa, bila tensi kelewat rendah mendadak, alias anjlok, bisa stroke juga. Ceritanya begini. "Dok, ayah saya teratur minum obat antihipertensi, hidupnya tertib teratur, tapi kok terserang stroke?" Penjelasan medis untuk kasus ini bahwa telah terjadi stroke hypotension. Pada saat tensi tidak meninggi ia tetap minum obat, maka tensinya anjlok.

Pasokan darah yang memasuki otak secara drastis dan mendadak sangat menurun, oleh karena tekanan darah tak mencukupi mengalir memasok kebutuhan darah otak. Normalnya pada tubuh yang normal, selalu ada mekanisme yang mengatur tensi darah sehingga otak senantiasa mendapatkan kecukupan pasokan, betapapun sedang menurunnya tensi darah memompa darah ke otak. Tapi mekanisme ini makin menurun seiring dengan bertambahnya umur. Hadirnya baroreceptor di pembuluh darah carotid batang leher sudah tidak peka lagi mengatur tensi darah senantiasa dipertahankan dalam batas nilai normal. Maka pada kasus hipertensi, terlebih yang sangat tinggi, katakanlah 180mmHg, dilarang menurunkan secara drastis, perlu bertahap, agar tidak anjlok.

Hal lain, tensi darah pada yang bukan turunan, bukan tergolong essential hypertension, lebih disebabkan oleh kesalahan gaya hidup. Maka hipertensi begini sebaiknya tidak lekas minum obat dulu. Ubah dulu gaya hidupnya. Kalau setelah beberapa waktu melakoni gaya hidup yang betul, tensi darah ternyata bisa normal, obat tidak diperlukan.

Gaya hidup sehat itu meliputi (1) berupaya agar berat badan dibuat ideal (berat dalam Kg dibagi pangkat dua tinggi dalam Meter, indeksnya harus di bawah 25), (2) tiap hari rutin olahraga (jalan kaki tergopoh-gopoh), dan (3) batasi asupan garam dapur (low sodium salt), (4) kendurkan stressor dalam hidup. Obat baru diperlukan kalau gaya hidup sudah diubah katakanlah sebulan lamanya, namun tensi masih di atas normal.

Protokoler pemakaian obat antihipertensi, obat dipilih yang paling ringan, baru bila dengan obat ringan, biasanya golongan diuretic, masih belum berhasil, dipilih tambahan obat generasi antihipertensi lain, sesuai dengan kondisi pasien. Dokter memilihkan golongan obatnya, apakah ada comorbid, ada penyakit penyerta atau gangguan organ lain. Hanya dokter yang memahami golongan antihipertensi apa yang diperlukan untuk sebuah kasus. Obat yang sama belum tentu cocok untuk semua kasus hipertensi.

Topik ini salah satu dari 150 slide powerpoint seminar "Sehat Itu Murah" yang menempuh waktu sedikitnya 3 jam nonstop, yang selama ini saya bawakan.

Salam sehat,
Dr HANDRAWAN NADESUL