JPRUTT Akan "Menteror" Lagi Dua Hari di TIM

0

Drama  Jprutt  pernah dipentaskan di Bentara Budaya Jakarta bulan lalu. Ternyata penonton cukup besar. Banyak yang tak kebagian tempat. Mungkin karena itu  Jprutt akan dipentaskan lagi  pada 28-29 April 2018 di TIM, Jakarta.

Pentas tersebut juga dengan momen  peluncuran buku kumpulan 100 naskah drama pendek yang pernah ditulis  Putu Wijaya, sutradara teater Mandiri. 100 naskah Putu tersebut, tentunya termasuk  naskah Jprutt.

Naskah  Jprutt  banyak  mengetengahkan  autokritik bagi kita yang menyaksikan. Bukan hidung siapa yang harus ditunjuk, pada keadaan di mana kita membebek pada asing dan goyah akan pendapat bangsa sendiri. Namun, cobalah bengkokkan sedikit ­telunjuk ke arah hidung ­sendiri.

“SAYANG sekali, negara yang kaya raya ini ­tidak maju karena rakyatnya tidur. Bangsa pemalas… Setelah ada rongrongan, baru mereka bergerak dan terlambat. Mental budak ini yang membuktikan bahwa bangsa kita belum siap merdeka!” Pada suatu hari, di rumah yang tenang. Ramai adu ­argumen antara Pak Amat dan istrinya. Mereka sedang meributkan isi terjemahan tulisan Profesor Co asal ­Amerika, yang kurang lebih isinya dianggap ‘menghina’ bangsa Pak Amat.

Tulisan yang diterjemahkan oleh anak Pak Amat, Ami, membuat gumun suami istri itu. Apa benar, tulisan yang baru dibacakan Pak Amat dan didengarkan oleh Bu Amat ini, adalah benar benar tulisan Profesor Co, atau sudah ditambah dan dikurangi Ami, anaknya? Untuk mencari kebenaran ini, Pak Amat ­memutuskan untuk menemui anaknya. Sementara itu, Profesor Co minta pamit untuk segera pergi ke Jogja, setelah selesai meneliti Gunung Agung Bali, yang mempertemukannya dengan keluarga Pak Amat.

Begitu digegerkan opini dari Profesor Amerika ini, sampai akhirnya terdengar juga ke telinga calon bupati dadakan, Agung Prameswari. Ia bertemu dengan Pak Amat di salah satu mal karena ingin meminta foto kopi kartu tanda penduduk (KTP) Pak Amat.

Dari situlah, Pak Amat menuturkan opini Profesor Co, yang kemudian dikutip calon bupati dadakan yang punya nama asli Ni Luh Ketek itu. Begitu populer opini yang dikutipnya dari Pak Amat ini. Agung Prameswari pun hingga hampir menang dalam panggung politiknya di daerah. Yang mungkin boleh saja, selama ini apa yang dikampanyekannya ini adalah bak bunyi kentut yang keluar dari mulut: Jprutt!

Bagaimana pula rakyat bisa percaya pada wakil dan calon wakilnya? Bila yang dikatakan adalah pepesan kosong, dan apa yang dilakukan selama ini, bukanlah untuk rakyat, melainkan untuk diri mereka sendiri. Padahal, apa yang dikutip, diucapkan, dan direproduksi menjadi gagasan andalan sebagai jualan politik oleh calon wakil rakyat itu, bukanlah tulisan Profesor Co. Opini itu tidak lain pendapat anak Pak Amat, yang hendak dikirimkan sebagai tulisan opini ke surat kabar lokal Bali. Pak Amat salah ambil, sementara isi tulisan Profesor Co justru memuji keajaiban yang terjadi pada bangsa Pak Amat, yang begitu beragam namun dapat disatukan dengan Bhinneka Tunggal Ika. (Red/MI)