10 Indeks Provinsi Hidup Bahagia. Banten?

0
Ini dia urutan provinsi paling bahagia

oleh Dr Handrawan Nadesul

Yang dikejar dunia sekarang bukan lagi PDB melainkan seberapa berbahagia rakyatnya (product happiness brutto). Bhutan misalnya, melupakan capaian devisa, demi menambah bahagia rakyarnya.

Ternyata negara yang tinggi indeks kebahagiaannya bukan yang kaya raya seperti Amerika, Cina, Rusia dan negara yang maju sekalipun, melainkan negara yang hidup tenang seperti negara Skandininavia.

Kuncinya tidak mengejar kekayaan. Bahwa kekayaan tidak selalu memberi kebahagiaan hidup, tak terbantahkan. Kebahagiaan hidup tidak bisa dibeli dengan cara apa pun, selain menjadi pilihan. Kuncinya, sebagaimana Denmark sebagai salah satu negara yang tinggi indeks kebahagiaannya, sudah melakukannya. Dua kuncinya, setelah semua kebutuhan dasar terpenuhi, lekas bersyukur dan ekspektasinya tidak muluk-muluk.

Selama kita masih tidak puas dengan apa yang ada di tangan, dan kita terus mengejarnya, kita sebetulnya belumlah berbahagia. Padahal kita sadar, tidak ada batas tertinggi untuk kepuasan. Itu maka negara adikuasa yang selalu mengejar untuk menjadi nomor satu di dunia, bukanlah negara yang berbahagia.

Begitu juga kita. Belum punya rumah kepingin punya rumah. Sudah dapat satu rumah pingin dua, sudah dapat satu mobil pingin nambah lagi. Hanya bila kita mensyukuri, dan bilang sudahlah cukup, "Berkatmu Cukup Bagiku", kita meraih kebahagiaan. Orang Jawa bilang hidup secukupnya, "sak madyo", enough is enough.

Saya membaca data indeks kebahagiaan semua provinsi di Indonesia. Sepuluh besar diduduki Maluku, Sulawaesi, Kalimantan, Yogya, dan Bali, dan bukan provinsi yang kaya raya. Paling rendah Papua, saya pikir bukan karena tidak kaya raya, tapi masih dalam kondisi untuk makan saja susah.

Bahwa untuk mulai bisa berbahagia kebutuhan dasar hidup harus mencukupi. Bisa hidup layak sebagai manusia, dan bugar total, fisik jiwa sosial spiritualitas.

Ini pembelajaran buat kita, bahwa pendidikan juga perlu mengacu pada paradigma mendidik anak bukan untuk menjadi orang kaya, melainkan menjadi orang berbahagia. *

Dr Handrawan Nadesul adalah dokter, penyair dan esais.