Musium Multatuli Dipadati Turis Tiap Hari

0




Cipasera - Tak disangka, pengunjung Museum Multatuli Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, selalu padat. Padahal awal dibuka banyak yang pesimis dapat pengunjung. Nyatanya sebaliknya.
     
Mereka wisatawan  berkunjung karena ingin  mengenang sejarah pahit masyarakat Lebak atas ketidakadilan Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.
     
"Kami mengapresiasi kunjungan wisatawan itu," kata Kepala Gedung Museum Multatuli Rangkasbitung Kabupaten Lebak Ubaidillah Muktar di Lebak, Selasa(21/8/2018)
     
Pihaknya mencatat wisatawan domestik dan mancanegara yang mengunjungi Museum Multatuli rata-rata 200 orang per hari.
     
Mereka wisatawan domestik itu dari DKI Jakarta, Bandung, Jogyakarta hingga Kalimantan Selatan.
     
Begitu juga wisatawan mancanegara  dari Belanda, Jerman, Swiss dan Australia.
     
Sebagian besar wisatawan untuk mengetahui sejarah kelam yang dialami masyarakat Lebak atas tindakan Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.
     
Dimana kaum kolonial telah melakukan kesalahan besar dengan melakukan kerja paksa dan penindasan terhadap masyarakat pribumi sehingga mereka pada masa lalu hidup menderita.
     
Kesengsaraan dan kelaparan dialami masyarakat Kabupaten Lebak akibat pajak dikeruk oleh Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. 
     
Kasus kemanusian yang dilami warga Lebak jangan sampai terulang lagi.
     
Oleh karena itu, novel Max Havelaar karya Multatuli merupakan bagian sejarah dunia. 
     
Douwes Dekker diutus Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai Asisten Residen Lebak pada 1850 untuk ditugaskan di Kabupaten Lebak.
     
"Kami berharap Museum Multatuli menjadikan kebanggaan masyarakat Lebak," katanya menjelaskan.
     
Menurut dia, Gedung Museum Multatuli yang lokasinya di depan Alun-Alun Rangkasbitung dan Kantor Pemerintahan Kabupaten Lebak.
     
Gedung tersebut memiliki tujuh ruangan dan mereka pengunjung wisatawan akan dipandu oleh pegawai museum.
     
Gedung Multatuli itu menggambarkan bagaiman kolonial masuk ke Indonesia, multatuli dan karyanya, sejarah Lebak dan Banten serta Rangkasbitung.
     
"Kami yakin museum ini manfaatnya cukup besar untuk sejarah anak-anak cucu," katanya.
     
Abdul Halim, rombongan pelajar dari  Kalimantan Selatan (Kalsel) mengatakan kunjungan ke Museum Multatuli untuk mengetahui sejarah kelam masyarakat Lebak diperlakukan tidak berprikemanusian oleh kolonial Hindia Belanda.
     
Dalam sejarah itu Douwes Dekker yang diutus sebagai Asisten Residen Lebak pada 1850 adalah warga Belanda, namun ia berbalik haluan  dengan membela masyarakat Kabupaten Lebak.
     
"Kami sangat tertarik sejarah Multatuli, karena mengangkat nilai-nilai kemanusian yang diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Belanda," ujar SMAN 8 Banjarmasin,Kalsel.
     
Direktur Konservator Multatuli Huis Amsterdam, Belanda, Klaartje Groot mengatakan pihaknya memuji Pemerintah Kabupaten Lebak membangun Museum Multatuli sebagai wisatawan kebudayaan dan bisa dijadikan penelitian.
     
Perjuangan Douwes Dekker patut dikenang masyarakat dan bagian sejarah dunia karena mereka bertolakbelakang dengan pemerintah atas tindakan  prikemanusian yang dialami kaum pribumi. (Red/Ant)