Neno Warisman Telah Jadi Simbol Perubahan

0


Oleh Teguh Wijaya

Neno Warisman, sosoknya sebagai pendakwah  kini telah berubah,  menjelma menjadi simbol perubahan. Perubahan untuk kepemimpinan nasional, perubahan yang membawa kehidupan ekonomi rakyat,  sosial dan demokrasi yang lebih baik.

Namun, sosok perubahan semacam itu, agaknya tidak dikehendaki oleh elemen kelompok status quo. Akibatnya, ia mengalami penghadangan dan persekusi di beberapa daerah. Seperti kita ketahui bersama, yang terbaru persekusi terjadi di Pekanbaru, Sabtu,(25/8/2018).

Setelah dihadang aparat dan kelompok tertentu beberapa jam, Neno Warisman, akhirnya dipulangkan ke Jakarta oleh aparat. Mantan artis ini dilarang tampil di acara deklarasi #2019 Ganti Presiden yang akan digelar di Pekan Baru, Minggu, 26/8/2018.

Pengusiran Neno dari Pekanbaru menjadi drama yang riuh. Semua media mengarahkan mata ke proses persekusi itu. Neno, wanita berusia 50- an yang ditemani tiga rekannya, dihadang ratusan aparat. Juga puluhan orang sipil yang cenderung anarkis.

Yang lebih dramatis dan menyesakkan, wanita ini mengaku diperkusi, diperlakukan kasar  oleh orang yang diduga Kabinda ( Kepala BIN Daerah). 

Dalam video yang beredar di medsos, orang yang disebut sebut sebagai Kabinda itu, memang tampak terlihat kasar. Dia menarik laki-laki yang berdiri di pintu mobil yang ditumpangi Neno. 

"Ya kami minta maaf, andai ada perlakuan kasar. Kami ikut mengamankan agar tak jatuh korban," kata Humas BIN Wawan Purwanto dalam jumpa pers, Senin, 27/8/2018.

Tak hanya itu, Neno juga menyebutkan saat penghadangan,  mobil yang ditumpangi dilempari batu entah oleh siapa. Sungguh miris, suatu pemandangan yang menyakitkan. Di negeri demokrasi, dimana penyampaian pendapat dimuka umum dijamin oleh Undang - undang Dasar 45 Amandemen, dipersekusi dan diperlakukan tidak wajar dan tak semestinya. Ironinya, mereka yang memperkusi seperti tak punya rasa malu: melawan emak -emak berusia 50 tahun! 

Tak ayal, peristiwa itu segera menjadi viral dan issue treding di medsos dan masyarakat. Banyak yang menyalahkan aparat, yang tidak proporsional menangani rencana deklarasi #2019 Ganti Presiden hingga melarang Neno. 

Banyak pihak juga mempertanyakan keterlibatan  Kabinda dalam peristiwa itu. "BIN itu tugasnya mengumpulkan informasi dan menganalisa lalu memberikan hasilnya kepada Presiden. Bukan eksekusi," kata Rocky Gerung, pengamat politik.   

Memang mengherankan, mengapa aparat BIN begitu keras meminta Neno untuk pulang ke Jakarta? Toh pada akhirnya deklarasi #Ganti Presiden di Pekanbaru tetap berlangsung meski tanpa kehadiran Neno. 

Boleh jadi banyak pihak khawatir, bila  gerakan deklarasi # 2019 Ganti Presiden di Pekanbaru sukses dihadiri puluhan ribu emak - emak seperti terjadi  di Solo, Jawa Tengah dan Makassar ,  juga di daerah lain, akan mengukuhkan Eksistensinya:  gerakan #2019 Ganti Presiden sebagai perubahan. 

Dan ini akan mengusik  pihak petahana. Sebab pemilih perempuan dalam Pilpres 2019 tercatat sekitar 49%. Jumlah ini tentu sangat signifikan secara elektoral. Dapat menggerus pemilih perempuan yang dahulu mendukung petahana.  Tak heran  Neno dapat hadangan di sejumlah daerah pula.

Penghadangan ini  supaya marwah gerakan #2019 Ganti Presiden lenyap dan kemudian mati. Sebab Neno dan #2019 Ganti Presiden sudah menyatu menjadi simbol gerakan perubahan. Dan simbol itu akan semakin hari semakin kuat  karena kondisi sosial dan ekonomi  kekinian sangat mendukung. Ini  akibat sejumlah kebijakan pemerintah  yang sangat  memukul emak -emak; mahalnya biaya hidup sehari - hari. Dari mulai Sembako, listrik, BBM  hingga pajak. Sementara harapan kehidupan berubah lebih baik, terutama ekonomi membaik tak bisa diharapkan dari pemerintah sekarang.

Disinilah, kenapa gagasan #2019 Ganti Presiden dapat sambutan yang luar biasa di berbagai daerah. Seperti jamur di musim hujan. Dan mengubah Neno, wanita berhijab ini menjadi simbol perubahan. Perubahan nasib dan hidup yang lebih baik, #2019 Ganti Presiden.

* Penulis penyair dan jurnalis