Rokok Kretek dan Kopi Sachet Penyumbang Kemiskinan di Banten

0
Ilustrasi (Foto:Ist)
Cipasera -Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten, Agoes Soebeno  merilis  hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) bulan September 2018 di kantornya, Selasa, 15/1/2018.
Hasilnya? Cukup memprihatinkan. Kemiskinan merangsek ke pedesaan. Sebab tercatat penduduk miskin di pedesaan mengalami peningkatan dibanding perkotaan. Peningkatan yakni 0,01 persen dibanding pada Maret 2018.
Yang  agak "unik", salah satu penyebabnya adalah karena kosumsi rokok. Tercatat, Pada  Maret  2018 661,36 ribu  orang  dalam kategori  miskin dan meningkat pada September menjadi 668,74 ribu orang.  Naik 7,38 ribu orang.
Masih menurut Agoes Soebeno, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar daripada peranan komoditi non makanan (perumahan, sandang pendidikan, dan kesehatan). 
Adapun jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar garis dalam  kemiskinan September 2018 di perkotaan dan perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras mie instan, roti serta kopi bubuk dan kopi instan (sachet).
Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2018 sebesar 4,38 persen naik menjadi 4,24 persen pada September 2018.  "Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2018 sebesar 7,33 persen naik menjadi 7,67 persen pada September 2018," papar. 
Lebih jauh Agoes memerinci, selama periode Maret 2018-September 2018, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 11,67 ribu orang (dari 393,80 ribu orang pada Maret 2018 menjadi 382,13 ribu orang pada September 2018). Sedangkan  di daerah perdesaan naik sebanyak 19,05 ribu orang (dari 267,55 ribu orang pada Maret 2018 menjadi 286,60 ribu orang pada September 2018).
Pada bulan September 2018, sumbangan  Garis Kemiskinan tercatat 71,60 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kondisi Maret 2018 yang sebesar 71,66 persen. Adapun  komoditi non makanan penyumbang terbesar kemiskinan di kota maupun di desa, yakni biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.
Ditegaskan Agoes, faktor berpengruh terhadap tingkat kemiskinan selama periode Maret hingga Septembe 2018 tak lain,   laju pertumbuhan ekonomi triwulan III sebesar 5,89 persen, atau lebih rendah dibanding triwulan I sebesar 5,95 persen.
Terjadi pula  inflasi di pedesaan priode Maret  - September sebesar 2,70 persen, lebih tinggi dinbandingakn inflasi umum sebesar 1,49 persen. (Red/ts/Sind) 
x