Batas Waktu Pembatasan Akses Medsos Dipertanyakan

0


Cipasera - Pembatasan akses ke media sosial dipertanyakan banyak. Tidak saja oleh pakar komunikasi, juga organisasi kebebasan berekpresi.

Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFenet)  meminta pemerintah memberikan kepastian jangka waktu yang jelas, kapan akses medsos dibuka kembali setelah aksi 22 Mei. Sebab kepastian dibutuhkan demi kelancaran komunikasi dan bisnis warga.

"Harus ada jangka waktu agar masyarakat bisa memastikan transaksi dan komunikasi agar lancar dengan klien bisnis atau sosial lain. Jangan dikira-kira (kapan akan dibuka akses)," ujar Kepala Divisi Akses Atas Informasi Unggul Sagena seperti dikutip CNNIndonesia.com, Jumat (24/5).

Selain itu, Unggul juga menyebut untuk menghalau konten negatif tersebar  tak perlu dengan cara menghambat akses bagi seluruh warga. Sebab, pemberlakuan pembatasan internet ini berdampak pada hak berkomunikasi dan kebebasan berekspresi warga.

"Melakukan takedown konten yang bisa dilakukan penyedia platform baik manual maupun otomatis melalui kecerdasan buatan, maupun kerja sama dengan trusted flagger. Mencari tikus tak harus membakar lumbung," kata Unggul.

Unggul menambahkan praktik  pembatasan akses media sosial ini tidak hanya sekedar perlambatan akses video dan foto. Ia mengatakan beberapa media sosial juga mengalami perlambatan pengiriman teks.

Sementara pakar medsos, Trubus Rahadiyansah mempertanyakan alasan psikologi yang dipakai pembatasan akses ke medsos oleh pemerintah.

"Karena negatif kemudian pemerintah membuat kebijakan pembatasan. Tapi yang jadi masalah adalah alasannya psikologis. Itu patut dipertanyakan karena alasan psikologis itu alasan terlalu umum dan universal dan tidak bisa dijadikan alasan spesifik," terang Trubus.

Trubus mengatakan seolah-olah pembatasan akses ini tidak didasari dengan kajian pemerintah bersama pakar dan ahli untuk membahas dampak dari pembatasan akses media sosial.

Menurutnya alasan psikologis memang merupakan alasan yang sangat umum. Ia juga mengatakan jika informais konten negatif bisa pengaruhi orang lain untuk bertindak negatif sudah sering disampaikan berkali-kali. (red/cnni)