Fenomena Gantung Diri Masih Tinggi Di Gunung Kidul. Hingga Agustus Sudah 22 Orang

0


Ilustrasi jumlah gantung diri Gunung Kidul

Cipasera.com - Fenomena bunuh diri dengan cara gantung di Kab Gunung Kidul, Yogyakarta hingga kini masih terus berlangsung. Setelah Senin 31/07, Rubiah tewas gantung diri, esoknya giliran Jumakir 48, warga Pule Gundes I, 04/09, Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, menambah panjang daftar kasus gantung diri. Hingga awal Agustus 2017  sudah tercatat 22 nyawa tak terselamatkan. Satgas Berani Hidup yang dibentuk oleh Pemkab Gunungkidul untuk mencegah gantung diri belum sesuai yang diharapkan.
Data yang berhasil dihimpun infogunungkidul.com dari berbagai instansi  Gunungkidul, tahun 2016 ada 30 kasus gantung diri, dan 2015 tercatat 31 kasus. Adapun hingga awal Agustus tahun ini sudah 22 jiwa, warga Gunungkidul mati  gantung diri.
Guna mencegah dan menekan fenomena gantung diri, Kapolres Gunungkidul Ngadino mengatakan, pihaknya akan terus melakukan upaya pencegahan. Bhabinkamtibmas maupun Unit Bimas di Polsek maupun Sat Bimas Polres Gunungkidul  melakukan pendekatan preventif di masyarakat. Warga yang berpotensi gantung diri didekati, kemudian dihibur, dan dicegah agar jangan melakukan gantung diri.
dr Ida Rachmawati, Sp.Kj, anggota Satgas Berani hidup secara tegas menyatakan, upaya pencegahan gantung diri akan maksimal bila semua pihak terus bekerja secara kompak
Menurut disertasi Dr I Wayan Suwena (2016), kasus bunuh diri di wilayah tersebut cenderung mengalami peningkatan. Selama lebih kurang 10 tahun terakhir ini mulai tahun 2003-2012 ada sekitar 330 peristiwa bunuh diri. Rata-rata terjadi 33 kasus bunuh diri setiap tahun. 

"Tindakan bunuh diri di Gunungkidul merupakan tragedi kemanusiaan. Penyebabnya masih menjadi sebuah misteri," kata I Wayan Suwena seperti dikutip detik.com, saat ujian terbuka program doktor di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (19/7/2016).


Pulung gantung digambarkan seperti sebuah bola api berpijar warna merah, kekuningan dan mempunyai ekor. Pulung gantung bergerak di atas langit dan berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah yang lain. Tempat pulung gantung jatuh itu dipercayai oleh masyarakat di tempat itu akan ada warga yang meninggal dengan cara bunuh diri.


Suwena mengatakan maraknya kasus bunuh diri sebagai akibat pelaku bunuh diri terkena atau kejatuhan pulung gantung. Adanya mitos pulung gantung ini melegitimasi tindakan bunuh diri masyarakat Gunungkidul.


"Masyarakat percaya adanya pulung gantung sehingga bunuh diri dapat ditempatkan sebagai fakta simbolik," kata dosen Universitas Udayana Bali itu. 


"Orang-orang yang mengalami kegagalan berkomunikasi tersebut melakukan kegagalan, kesalahan, kekeliruan, maupun kesesatan pula saat melakukan signifikasi pada pulung gantung," katanya.


Guna mengantisipasi merebaknya kejadian bunuh diritambah Suwena, perlu diupayakan menciptakan kerukunan dalam berkomunikasi, baik dalam kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memperkaya atau memproduksi sebanyak mungkin media yang dapat digunakan untuk mengadakan komunikasi. (Red/ts/dtk)