Di Balik Skenario Risma Nyalon di Banten

0

Hajjah Tri Rismaharini. Skenario ke Banten (foto: Ist)

Oleh Teguh Wijaya *

Sosok seorang  dalam Pilkada sangat  tinggi untuk menjaring suara dalam kontestasi pemilihan umum. Hal ini tampaknya  berlaku pada kontestasi Pilkada Provinsi Banten.

Gubernur Banten Rano Karno selaku petahana, tentu memiliki magnitude tinggi bagi masyarakat. Apalagi masih ditunjang  Rano sudah sangat populer namanya selaku aktor film dan sinetron. Masyarakat sudah sangat kenal sosoknya.

Mungkin lantaran itu,  Rano yang  diusung oleh PDI Perjuangan hingga saat ini belum menentukan pasangan calon wakil gubernur dalam Pilgub Banten 2017 mendatang. Dia masih santai menunggu momentum. Pasalnmya, baginya, sosok untuk wakil sudah ia kantongi. Konon, ada dua nama yang  cocok  bagi dirinya.

Kedua sosok ini memiliki kriteria sama, Cuma beda bobot kualitasnya saja. Kriteria pertama, sosok yang disukai Rano adalah seorang yang muda, memiliki wawasan tentang Banten,   relegius, jujur serta  kreatif.

Penjabarannya, usia muda itu  maksimum 50 tahun. Umur lima puluh tahun, ibarat buah sudah matang dan masih  akomodatif dengan perubahan. Daya berfikinya masih cukup bagus. Beda dengan usia di atas 50 tahun, cendeung letoy.

Memiliki wawasan kebantenan. Ini diperlukan lantaran Banten itu memiliki akar budaya kuat dan masyarakatnya punya mobilitas tinggi sejak zaman dulu. Namun, di balik itu, Banten masih belum  sejahtera keseluruhan. Untuk itu, perlu orang yang mampu memahami masyarakat Banten  untuk menemukan solusi. Membuat sejahtera
         
Relegius dan jujur. Relegius dalam pengertian yang sebenarnya. Sebab wakil merupakan representasi juga dari pemerintahan provinsi. Ini agar memudahkan berkomunikasi dengan masyarakat yg kuat agamanya.  Sementara kejujuran juga tak kalah pentingnya.

Banten sejauh ini terkena stigma provinsi yang pejabatnya banyak  korup. Untuk membersihkan harus dimulai dari kepala lebih dulu. Petahana akan kesulitan  bikin gebrakan bila wakilnya tersangkut atau pernah terkena skandal uang. Sedang kreatif, mampu menemukan jalan keluar bila ada kendala yg sifatnya kultural, ekonomi dan social.

Jika kiteria tersebut diajukan dan menjadi kenyataan, elektabilitas petahana membumbung tinggi, meninggalkan lawan lawanya. Sebab apa yang diusung petahana adalah antitesa lawannya. Yang sejauh ini ditunggu oleh public.

Namun Rano atau PDI-P Banten boleh berharap sosok tersebut sebagai jalan kemenangan. Tetapi keputusan DPP PDI-P belum keluar. Masalah sosok di Pilgub Banten masih dalam pembahasan dan simulasi. Sejumlah skenario pun banyak muncul. Diantaranya, skenario Hj Tri Rismaharini, yang akrab disapa Risma, Walikota Surabaya diusung  nyalon di Banten.

Kabar internal di DPP PDI-P memang mengejutkan.   Rano Kano lantas diusung untuk nyalon di Jakarta. Sebab pertimbangannya, pemeran Si Doel ini lebih cocok untuk calon di DKI Jakarta. Profil dan citra Rano Karno di Jakarta sangat dikenal masyaakatnya dan disukai. Kabanya lagi, dalam survey yang pernah dilakukan PDI-P,  Rano memperoleh persentase elektabilitas jauh di atas Ahok alias Basuki Tjahaya Purnama, si petahana.

Rano Kano sendiri sepetinya tak masalah bila ia harus maju di Pilgub Jakarta. Bebepa bulan lalu, saat ditanya wartawan, ia dengan tegas bilang siap mengemban dan menjalankan tugas bila partai (Megawati) menghendaki.

Agaknya skenario yang matang sudah dipersiapkan partai Moncong Putih ini.  Risma, Walikota Surabaya segara tampil. Risma diyakini sangat tepat untuk bertarung di Banten. Masyarakat Banten sudah  mengenal Risma melalui pemberitaan media. Prestasinya  yg bagus juga sudah diketahui. Dan harapannya bila Risma terpilih, problematika Banten akan mudah dibereskan. Tidak itu saja. Banten butuh  Risma yang populis, pekerja keras dan anti KKN (korupsi, kolusi, Nepotisme). Yang terakhir, menurut survey  adalah hal yang diharapkan masyarakat.
               
                                       * Penulis adalah wartawan senior dan  penulis tinggal di Kota Tangsel