Cara Rektor UIN Ciputat Tangani Dosen Bercadar Dikritik Mahasiswa

0
Ilustrasi 

Cipasera.com - Dosen bercadar dipecat rektor UIN. Begitu berita di medsos yang ramai dua hari lalu. Berita yang dilansir beberapa portal online, solah-olah Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dede Rosyada sangat tidak humanis dan islamphobi. Betulkah demikian?
Menurut Edy A Effendi, dosen UIN yang juga penulis ini, sejatinya dosen bercadar itu tak dipecat tapi mengundurkan diri. Rektor UIN Jakarta memberi pilihan, apakah tetap aktif di gerakan radikal atau tetap aktif mengajar di UIN Jakarta. Dan perlu diketahui, status dosen bercadar itu sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Atas pilihan yang diajukan rektor, dosen bercadar itu memilih mengundurkan diri. Undur diri dari kegiatan mengajar di Fakultas Kedokterdan dan Ilmu Kesehatan dipilih dosen bercadar dan tentunya undur diri sebagai PNS.
"Itu tahun lalu, 2016, karena memang yang bersangkutan pernah kami panggil dan lakukan konfirmasi. Kami berikan pilihan dan dia malah memilih aktif di kegiatan organisasinya itu," ujar Dede seperti ditulis Edy A Effendi di kumparan.com
Selanjutnya, Eddy dalam tulisannya menyatakan, dalam pandangannya, Dede tidak terlalu jauh mengidentfikasi orang tersebut dari busana dan cara berpakaian dosen, pekerja atau mahasiswa di sini, tapi jika ada indikasi dan bukti seseorang terlibat dalam gerakan radikal, Dede akan ambil tindakan dengan memberi pilihan
Dan pilihan yang ditawarkan Dede Rosyada itulah yang mengundang kritik dan kecaman. Baik dari masyarakat maupun mahasiswanya. Seorang mahasiswa pasca sarjana berpandangan, solusi yang ditawarkan Prof Dede Rosyada adalah dua pilihan yang sama- sama sulit. Bagai buah simalakama

"Ya, solusi tetap mengajar di UIN atau pilih organisasi 'radikal', itu seperti pilihan buah simalakama, dimakan mati bapak, tidak dimakan mati ibu," kritik mahasiswa yang enggan disebut namanya itu. "Mestinya Pak Dede melakukan pendekatan "ayah -anak". Dibimbing agar meninggalkan ormas radikal. Biasanya, kalau cara kekeluargaan akan luluh." (red/*)