Fenomena Pria Muda Nikahi Nenek. Motivasi Dalam Menikah

0


Tiga hari lalu medsos diramaikan oleh pria muda berusia 20 tahun menikahi seorang nenek usia 72. Kasus ini kemudian viral di medsos. Sebelumnya, sekitar 6 bulan lalu di Manado pria muda menikahi wanita sepuh berusia 86 thn. Dan mereka menikah atas dasar suka sama suka. Bukan hanya 2 saja. Setidaknya ada 10 pasangan seperti ini di Indonesia. Untuk memahami pernikahan "unik" ini, kami sajikan tulisan Dr Handrawan Nadesul yg kami sunting dari akun medsosnya. Siapa tahu dapat membantu untuk memahami fenomena aneh ini. Redaksi:

Motivasi Dalam Menikah

Kemarin Radio Elshinta Jakarta menelepon saya minta wawancara kasus remaja 16 tahun menikah dengan nenek 71 tahun. Oleh karena saya sedang enggan, dengan maaf, saya menyampaikan tidak bersedia.

Pagi ini saya tertarik mengamati kasus langka ini. Bahwa orang menikah, yang sesungguhnya hendak menikah, memilih pasangan berdasarkan keputusan pikir, dan rasa yang dimilikinya. Bila itu berlangsung wajar, orang akan dipandu oleh "love map", peta cinta yang terbentuk di benaknya, dan ini menjadi preferensi sosok seperti apa yang menjadi ketertarikannya (sex appeal).

Banyak faktor bekerja yang melatari keputusan orang memilih dan memutuskan siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya. Selain dipandu peta cinta miliknya, warna kepribadian, selain juga semua latar belakang hidupnya. Urutan anak ke berapa, hadir tidak figur ayah-ibu, apakah tergolong anak mami? Itu semua yang ikut menentukan siapa pasangan hidup yang akan diputuskan untuk dipilihnya.  Dan itupun sekiranya betul jujur pada pikir dan rasa pribadi seutuhnya.

Yang tidak jujur dipengaruhi oleh sikap pragmatis, seperti hanya mau memilih yang kaya raya, yang kita biasa menjulukinya matre. Atau hanya memilih garis darah tertentu. Pilihan ini mengorbankan kejujuran hakiki, yang tidak lebih cocok, tidak lebih pas. Konon kondisi ini pula yang ikut menentukan langgeng tidaknya sebuah perkawinan.

Ada banyak studi ihwal ketertarikan seseorang pada lawan jenisnya. The science of falling in love salah satunya. Peristiwa jatuh cinta bisa dinalar oleh keilmuan, peristiwa yang berlangsung di otak, soal aktifnya neurotransmitter tertentu saat jatuh cinta, menjadikan peristiwa jatuh cinta sebagai sesuatu yang eksak, bukan emosi  belaka. Bahwa jatuh cinta itu matematis, karena bila saat peristiwa itu dilakukan scan pada otak, akan membuktikan kebenaran jatuh cintanya bukanlah hal yang gombal, atau palsu. Bukti cinta bisa dikonfirmasi lewat scan otak.

Tapi persoalan sekarang, apakah perkawinan masih membutuhkan cinta. Sudah beberapa dasawarsa generasi setelah Baby Boomers, menafikan unsur cinta diandalkan sebagai fondasi perkawinan. Cinta sudah tidak lebih penting dari kecocokan. Cinta saja tapi tidak cocok, maka perkawinan bisa bubar. Sikap pragmatis logis begini yang membuat motivasi perkawinan semakin disimpulkan sebagai sesuatu yang matematis.

Mencari pasangan yang compatible sebagaimana dilakukan jasa comblang biro jodoh dengan cara memanfaatkan perhitungan kecocokan. Diawali dengan mencocokkan dua latar calon yang mencari pasangan, apa rasi bintangnya, latar belakangnya, kesamaan hobi, dan ingin mencari yang sosok seperti apa, disusul dengan memilah foto, lalu membaca latar, lalu copy darat, lalu intimacy, dan lalu keputusan diambil.

Melihat proses biro jodoh computerized orang sekarang begitu, sesungguhnya jauh lebih tepat dalam menentukan pilihan pasangan yang akan diputuskan jadi teman hidup ketimbang, berdasarkan kebetulan ketemu, atau dipertemukan sebatas pagar rumah belaka. Atau sekadar perkawinan yang dijodohkan seperti zaman dulu orang lakukan. Mestinya perkawinan yang berdasarkan lebih cocok, mestinya akan lebih langgeng.

Bahwa perkawinan orang dulu, yang bahkan baru ketemu saat mau menikah, dan kelihatan langgeng, apa sesungguhnya langgeng, hanya mereka yang paling tahu. Mungkin saja hanya dilanggeng-langgengkan.

Logikanya, tanpa cinta, tanpa kecocokan, perkawinan menjadi penderitaan dibanding yang dengan cinta dengan kecocokan, kata para pakar. Anthropolog Hellen Fisher menilai perolehan score tinggi sebagai tools apakah perkawinan akan langgeng, dari latar kematangan masing-masing pasangan, dan kecocokan lewat proses intimacy (baca: pacaran secara benar). Makin buruk proses saling mengenal aku-dan-kau selama pacaran (intimacy), makin rapuh fondasi perkawinan, misal bila seks berjalan lebih dulu dari cinta. Seks menutupi segala hal penting lainnya. Baru pacaran seminggu sudah melakukan seks yang jauh, misalnya, diperkirakan nasib perkawinan betapa regasnya.

Kembali ke soal kasus di atas, saya melihatnya sebagai kasuistik belaka. Hal itu bisa saja terjadi begitu karena keadaan. Bahwa si remaja sudah kehilangan kedua orangtuanya. Anak yang kehilangan figur ayah-ibu pereferensnya memilih pasangan hidupnya yang bisa menggantikan peran yang hilang itu. Anak perempuan yang kehilangan figur ayah cenderung memilih pasangan hidup lelaki yang lebih tua. Juga lelaki yang kehilangan figur ibu memilih calon istri yang lebih tua. Konon si remaja dengan memaksa teguh ingin mengawini si nenek.

Sudah disebut di atas, bahwa preferensi seseorang hendak memilih yang seperti apa juga masih banyak dipengaruhi faktor lain, seperti kepentingan adanya warisan, punya rasa rendah diri, atau tidak ada pilihan lain, juga bukan faktor yang tidak hadir.

Itu semua cuma analisis sederhana, dan opini dari sedikit yang pernah saya baca, yang bisa saja tidak tepat. Anggap saja ini sebagai hiburan, bahan obrolan belaka.

Salam sehat,
Dr HANDRAWAN NADESUL