Meski Lumpuh, Sugiarto Mengajar Ngaji dengan Terbaring

0
Sugiarto sedang mengajar (foto:ist)
Cipasera.com - Kakinya lumpuh. Badan hanya bisa terbaring di kamar tidur. Padahal sebelumnya sehat. Tapi itulah nasib Sugiarto (36) sejak jadi korban kecelakaan 17 tahun silam. 
Meski demikian, warga Grumbul Dukung Pucung II RT 5 RW 6 Desa Karangbawang Kecamatan Ajibarang, Purwokerto, Jateng tak kenal putus asa. Dengan terbaring, ia tetap menularkan ilmunya, mengajar mengaji anak-anak sekitar lingkungannya.
Sugiarto menuturkan, sebelum terjadi kecelakaan 17 tahun lalu, dia sudah rutin mengajar mengaji anak-anak sekitar lingkungannya. Kecelakaan menyebabkan ia tidak bisa mengajar mengaji secara normal.
Kecelakaan terjadi usai dirinya mengaji di Langgongsari Cilongok, Banyumas.  Dia membonceng teman dan tertabrak bus. Bagian pinggangnya  terlindas bus dan mengakibatkan lumpuh.
Usai kecelakaan, dia mendapat perawatan rumah sakit di Solo sampai 40 hari. Akibatnya, aktivitas mengajar mengaji berhenti karena kondisi badan yang tidak memungkinkan.
Namun empat bulan kemudian ia sehat meski kakinya tak bisa untuk berjalan. Ia kembali mengajar ngaji. 
"Satu yang menjadi semangat saya adalah Al Quran dan wejangan guru mengaji saya supaya apapun keadaannya, harus berbuat baik kepada sesama,”tutur Sugiarto (1/8)
Saat ini, setiap sore hari mulai pukul 15.00 sampai 17.00, anak-anak sekitar rumahnya dari usia anak-anak belum sekolah sampai sekolah dasar, mengaji bergiliran mulai dari Iqro, Juz Ama dan Al Quran.
Namun berbeda dengan cara mengajar sebelum kecelakaan, saat ini dia hanya bisa berbaring untuk mengajar karena sudah tidak kuat untuk duduk.
Mengajarnya dengan tidur, sementara anak-anak yang mengaji berdiri atau duduk. Awalnya sulit, tetapi lama kelamaan terbiasa. 
"Kalau saya sedang merasa sakit terutama di bagian operasi usai kecelakaan, biasanya libur mengaji,”ungkap Sugiarto
Sugiarto saat ini hidup hanya bersama ibunya, Rasitem. Ibunya  sudah cerai sebelum terjadinya kecelakaan dan mempunyai anak satu. 
“Masih ada pen di bagian dada dan pinggang yang sampai saat ini belum dilepas. Untuk makan bisa sendiri, tapi ibu saya yang menyiapkan. Kalau BAB saya pakai pempers,”jelasnya.
Terkait dengan jaminan kesehatan, Sugiarto tidak mempunyai kartu jaminan kesehatan sampai saat ini. Bahkan untuk membeli teh herbal juga karena bantuan dari teman. Kalau sedang sakit ia minum teh herbal. Katanya, setelah minum teh tsb tidak begitu Sakit.  
Dartim dan beberapa warga yang  salah satu anak yang mengaji di rumah Sugiarto, sering memberikan bantuan ala kadarnya kepada Sugiarto. Sejak Sugiarto tidak bisa beraktivitas, keluarga kesulitan biaya hidup sehari-hari. 
Warga sering membantu  beras, pempers atau kebutuhan lain. Warga berharap pemerintah dapat membantu  Sugiarto. Sebab Sugiarto sangat dibutuhkan warga untuk  mengajar mengaji anak-anak. (Red/radarpurwokerto)