Tester Tanah Air Bertolak ke German 20 Juni. Berharap dapat Emas

0
Salah satu adegan Help (Foto: Ist)
Cipasera -Teater Tanah Air (TTA) asuhan Jose Rizal Manua akan berangkat ke German 20 Juni 2018, mengikuti 15th World Festival of Childrens  Theatre di Lingen (Ems) Jerman, pada 22-29 Juni.  

Teater yang sering menyabet penghargaan tingkat dunia ini, kali ini menargetkan penghargaan 1 Emas. "Target emas ini supaya jadi motivasi semua yang terlibat. Lagi pula, TTA pernah meraih berbagai penghargaan pada festival anak anak serupa di Jepang," kata Jose Rizal.

Sebagai uji coba, kemarin TTA pentas di Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta, belum lama ini. Dan pertunjukan berlangsung seru. 

Ratusan anak tiba-tiba menyerbu panggung pertunjukan Gedung Graha Bhakti Budaya- Taman Ismail Marzuki malam itu.

Dengan gagah berani anakanak itu melempari dua robot yang berusaha mengambil bulan dan menyandera salah satu anak yang menyerbu tadi. “Huuu ... mati tuh robotnya,” teriak anak-anak saat melihat dua robot roboh dan terkapar di atas panggung.

Itulah sepenggal kejadian spontanitas Teater Tanah Air (TTA), teater anak berkelas dunia, yang sukses menampilkan pertunjukan hebatnya di Graha Bhakti- Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta tadi malam. Pertunjukan dengan konsep dolanan anak-anak itu terasa sangat menghibur dan dramatis.

Ditambah pencahayaan dengan efek bayangan dan tampilan slide rembulan berukuran besar di layar lebar membuat panggung pertunjukan terlihat sangat menarik. Ketika layar digoyang-goyang, slide yang terlihat bagai hidup. Bagai pentas tiga dimensi.

Permainan tidak hanya di depan layar, tetapi juga di belakang layar, bahkan melibatkan ratusan anak yang berada di bangku pertunjukan. Sang sutradara Jose Rizal Manua menjelaskan, pementasan bertajuk Help karya Putu Wijaya ini dalam rangka persiapan tampil di ajang “15th World Festival of Children’s Theatre” di Lingen (Ems) Jerman, pada 22-29 Juni dengan membawakan lakon yang sama.

Menurut Jose Rizal, semangat anak-anak yang terlibat dalam pementasan ini patut dihargai. Terlebih untuk bisa tampil di luar negeri, semangat perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan anak-anak ini sangat besar. 

“Dalam keterbatasan yang ada, anak-anak ini mampu menampilkan pementasan yang maksimal,' tambah Jose,"Untuk menyiapkan sebuah pertunjukan di luar negeri itu, mereka harus melakukannya sendiri, mulai dari menyiapkan kostum, tata panggung dan seluruhnya dilakukan oleh para pemain,” kata Jose Rizal yang berharap besar pementasan anak-anak asuhnya ini kembali meraih medali emas di ajang festival teater anak dunia nanti.

Jose Rizal dalam menggarap teater tak ingin penonton sebagai orang yang duduk manis, tetapi bagaimana terlibat secara emosional. Bahkan pemain tak hanya bermain di atas panggung, tetapi juga turun mendekat dan berbaur dengan penonton.

Sekadar catatan, sejak berdiri pada 1988, Teater Tanah Air yang identik dengan kelompok teater anak-anak ini sudah beberapa kali mengikuti festival teater anak-anak se- dunia, yakni pada 2004 di Jepang, 2006 di Jerman, 2007 di Malaysia dan di Singapore, 2008 di Rusia dan di Switzerland, 2013 di Maroko dan di India.

Di  tahun 2016 di Kanada, TTA juga ikut. Dari keikutsertaannya dalam ajang internasional tersebut, kelompok teater ini sudah pernah meraih penghargaan tertinggi dengan membawa medali emas. (Red/ts/ hendri irawan)