Kesaksian Tentang Kivlan Zen di Filipina Selatan
Selasa, 03 Mei 2016
Edit
Kivlan pengaruhnya begitu kuat di Moro |
Tampaknya Kivlan Zen sangat dihormati di Filipina Selatan. Bahkan Pimpinan Bangsa Moro ingin ia menikahi putrinya 20 tahun silam. Ia juga kenal hampir semua orang penting di di sana. Tak heran jika ia diterima dengan baik untuk berunding dengan kelompok Abu Sayyaf. Berikut kesaksian Teguh Setiawan, mantan wartawan Republika. Redaksi
"Saya tak heran
bila Pak Kivlan Zein punya peran dalam pembebasan sandera pelaut Indonesia di
Filipina itu. Dia memang hebat. Negosiator hebat. Saya sudah lihat peran dia
langsung sekitar 20 tahun silam!’’
Pernyataan itu diungkapkan mantan wartawan senior Republika, Teguh Setiawan, yang kini tengah melanglang buana. Dia menceritakan pengalamannya 20 tahun silam saat ditugaskan beberapa kali ke Filipina, terutama meliput peristiwa konflik di kepulauan Filipina bagian selatan yang dikenal dengan sebutan wilayah bangsa Moro.
"Seluruh elemen bersenjata di wilayah kepulauan Filipina semua mengenal Kivlan. Dia begitu dihormati di sana. Saya tahu berbagai orang penting di wilayah itu, seperti Sultan Sulu hingga Nur Misuari yang menawari Kivlan menikah dengan salah satu putrinya, tapi Kivlan menolak. Padahal, adanya tawaran itu menandakan begitu tinggi atau terhormatnya posisi seorang Kivlan Zein yang saat itu memimpin pasukan perdamaian Organisasi Konferensi Islam yang bertugas di Filipina Selatan,’’ kata Teguh ketika dihubungi Republika.co.id, Senin (2/5).
Teguh kemudian menceritakan bahwa dia bersama putranya yang juga seorang wartawan sempat menelepon Kivlan semalam. Saat itu, Kivlan tengah berada di kediaman Gubernur Sulu. Teguh hanya mendengarkan perbincangan Kivlan dengan putranya.
"Serulah omongan itu. Di sela pembicaraan itu sempat terhenti sesaat ketika terdengar tembakan. Anak saya bertanya, apakah itu tembakan senapan serbu AK-47? Dan itu dijawab Kivlan dengan tertawa, 'Iya, memang kenapa?'’’ katanya.
Pernyataan itu diungkapkan mantan wartawan senior Republika, Teguh Setiawan, yang kini tengah melanglang buana. Dia menceritakan pengalamannya 20 tahun silam saat ditugaskan beberapa kali ke Filipina, terutama meliput peristiwa konflik di kepulauan Filipina bagian selatan yang dikenal dengan sebutan wilayah bangsa Moro.
"Seluruh elemen bersenjata di wilayah kepulauan Filipina semua mengenal Kivlan. Dia begitu dihormati di sana. Saya tahu berbagai orang penting di wilayah itu, seperti Sultan Sulu hingga Nur Misuari yang menawari Kivlan menikah dengan salah satu putrinya, tapi Kivlan menolak. Padahal, adanya tawaran itu menandakan begitu tinggi atau terhormatnya posisi seorang Kivlan Zein yang saat itu memimpin pasukan perdamaian Organisasi Konferensi Islam yang bertugas di Filipina Selatan,’’ kata Teguh ketika dihubungi Republika.co.id, Senin (2/5).
Teguh kemudian menceritakan bahwa dia bersama putranya yang juga seorang wartawan sempat menelepon Kivlan semalam. Saat itu, Kivlan tengah berada di kediaman Gubernur Sulu. Teguh hanya mendengarkan perbincangan Kivlan dengan putranya.
"Serulah omongan itu. Di sela pembicaraan itu sempat terhenti sesaat ketika terdengar tembakan. Anak saya bertanya, apakah itu tembakan senapan serbu AK-47? Dan itu dijawab Kivlan dengan tertawa, 'Iya, memang kenapa?'’’ katanya.
Dari perbincangan yang didengar bersama anaknya dengan Kivlan, diketahui tak ada uang tebusan yang diberikan. Padahal, Kivlan selaku wakil dari pihak perusahaan itu sudah membawa uang yang mereka minta.
"Rupanya, ketika bertemu, ada beberapa petinggi pasukan Abu Sayyaf yang mengenal Kivlan. Nah, kemudian tak jadi uang tebusan diberikan karena mereka tak mau terima setelah tahu Pak Kivlan yang datang untuk berunding,’’ ujarnya.
Mengetahui fakta seperti itu, Teguh sekali lagi mengatakan tak terlalu heran. Sebab, Kivlan memang punya kualifikasi yang tinggi sebagai seorang juru runding militer.
Mengenang Sepekan Bersama Bersama
Kivlan Zen
Rupanya, tak cukup diwawancarai,
Teguh pun menulis kenangannya bersama Kivlan ketika sepekan berada
di Filipina Selatan. Teguh
menuliskan sebagai berikut.
Saya merasa tidak aneh mendengar
kabar Kivlan Zen terlibat dalam perundingan pembebasan 10 WNI yang disandera
Abu Sayyaf.
Tahun 1996, usai penandatanganan
perjanjian damai Moro National Islamic Liberation Front (MNLF) dan Pemerintah
Filipina di Istana Malacanang, saya dan wartawan Indonesia lainnya berkunjung
ke Mindanao.
Pesawat TNI AU mendarat d General
Santos City. Kami berjalan menuju Cotabato, dilanjutkan dengan terbang ke
Zamboanga.
Tapi keberangkatan saya sempat saat
itu tertunda karena harus memberikan kursi kepada satu petinggi MNLF. Saya pun
berangkat keesokan harinya.
Setelah bermalam di sebuah hotel di
Cotabato, saya melanjutkan perjalanan dengan pesawat kecil; berpenumpang dua
orang, ke Zamboanga. Di kota ini saya bertemu Kivlan Zen, yang saat itu
menjabat komandan pasukan perdamaian IOC--yang bertugas memantau gencatan
senjata.
Di situ saya lihat secara langsung
kemampuan Pak Kivlan dalam memimpin negosiasi. Dia mengenal hampir semua
petinggi MNLF, keluarga Nur Misuari, dan punya jalur komunikasi dengan
kelompok-kelompok lainnya. Ia piawai berunding dengan siapa pun.
Pak Kivlan pula yang mengantar Nur
Misuari ke Jolo, ibu kota Provinsi Sulu, untuk mengikuti pemilihan gubernur
Autonomous Region of Muslim Mindanao (ARMM). Perjalanan dimulai dari Zamboanga
menuju Basilan.
Seusai shalat Jumat dan makan siang
di Basilan, perjalanan dilanjutkan ke Jolo (baca: holo). Di kota ini, Nur
Misuari menemui pendukungnya dan berkampanye.
Satu hal yang tak pernah saya
lupakan dari Pak Kivlan adalah ketika dia mengeluh karena dimintai Nur Misuari
menikahi salah satu anak orang nomor satu MNLF itu.
"Saya pusing. Kelamaan di sini,
saya disuruh menikah dengan anak Nur Misuari," katanya kepada saya dan
wartawan lain. (M.Subarkah)
.