Masjid Al Jihad Ciputat Riwayatmu Kini

0


Al Jihad yang megah dan penuh riwayat (foto: Ist)


Cipasera.com -Boleh jadi, Masjid Agung Al Jihad, Ciputat  merupakan satu –satunya  masjid yang menyimpan  cerita dakwah dan perjuangan  di Tangerang Selatan.  Betapa tidak,  di masjid inilah dulu tempat ustadz dan pejuang berkumpul.

“Ya, ceritanya begitu dari para sesepuh Ciputat. Di masjid ini tempat ustadz dan pejuang melawan Belanda berkumpul,” kata Sania Wirareja, Ketua  DKM  Al Jihad. kepada cipasera.com, Jumat,  26/5/2017

“Konon,  di zaman 45 sehabis  sholat  isya para pejuang langsung  bergerilya.  Pada  saat peristiwa  penyerbuan markas Belanda di Cilenggang, pejuang  Ciputat kumpulnya juga di masjid ini. Para pejuang yang gugur dalam pertempuran tersebut  dikenal kini sebagai Pahlawan Seribu.”

Lantaran  sering dijadikan tempat pejuang berkumpul lantas  masjid  ini lantas dinamakan Masjid  Al Jihad. Artinya berperang di jalan Allah. Tentu dalam melawan  Belanda. Tak heran pula, masjid ini pernah digempur Belanda 1946. Tak jelas berapa korban yang tewas. Tapi beberapa tahun kemudian dibangun tugu di komplek masjid. Sayang, tugu peringatan tersebut  dibongkar saat zaman PKI merajalela tahun 1964.

Mushola Bambu
Dari data yang berhasil dikumpulkan cipasera.com,  Masjid  Al Jihad  yang berlamat di jalan H.Usman, Ciputat ini   mulanya  hanya sebuah mushola sederhana yang  dibuat dengan  bambu tahun  sekitar 1940.

Pendirian  mushola tersebut mengingat adanya kebutuhan beribadah masyarakat yang makin ramai, dengan adanya areal pedagang sayuran  (kini pasar Ciputat) yang jauhnya selemparan batu dari mushola.     

Dalam  perkembangannya,   melihat  makin ramai  mushola tersebut, pemilik  tanah  yakni Tuan Salim, mewakafkan  tanah seluas 1 Ha itu untuk dijadikan  masjid. 

Tuan Salim merupakan  warga keturunan Arab yang  menikah dengan wanita keturunan Tionghoa. Kabarnya, Tuan Salim adalah pedagang yang sukses dan tinggal  di Ciputat.

Melihat jemaah makin tahun makin bertambah, Al Jihad  sering  direnovasi. “Pada  1970, Al Jihad diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat dan Bupati Tangerang,” kata Sania sambil menerawang. “ Kala itu, masjid memang direnov besar –besaran. Karena  Ciputat masih bagian Jawa Barat maka yang datang Gubernur Jawa Barat.”  

Di masa itulah, Al Jihad  mendapat  penghargaan sebagai  masjid terbaik se Jawa Barat. Dinilai terbaik karena memiliki sejarah  perjuangan melawan Belanda, arsitekturnya  “membumi” , rapi  dan terjaga kebersihannya.

Lagi –lagi, setelah  puluhan tahun, jemaah   makin  banyak. Tiap Jumatan dan taraweh meluber keluar.  Maka pengurus masjid  berinisiatif  melakukan renovasi  2012 dengan dana   swadaya masyarakat. Dan  selesai 2016 lalu sudah final dan megah.

Semula  konsep arsitekturnya  dibuat  menyerupai  pendopo  khas Banten. Konsep tersebut untuk menyesuaikan identitas daerah setelah Ciputat tidak lagi menjadi bagian Jawa Barat.

“Namun karena keterbatasan biaya  konsep itu diganti dengan bentuk setengah lingkaran pada atap masjid,” tambah Sania, pemilik lembaga  kursus .

Masjid Agung Al Jihad  berdiri megah.  Sejumlah tokoh seperti Ketua Muhamadyah Din Samsudin, Ketua PB NU,  Buya Hamka, Zaenudin MZ, Rhoma Irama dan lain –lain   pernah berceramah  di masjid yang kini letaknya berseberangan dengan fly over Ciputat.

Al Jihad kini memiliki bangunan yang terdiri  dari Gedung Serba Guna, Ruang Ibadah atau bagian Masjid, Gedung Usaha, dan Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) Islam dan Taman Pelajaran Al Qur’an (TPA). (Red/sekar/id)