Tak Perlu Pasang Stent Jantung Karena Collateral

0
 

Oleh Dr dr Handrawan Nadesul

Seorang pasien dulu pernah bilang begini. "Saya menolak waktu 10 tahun lalu dokter memvonis saya harus dipasang stent (cincin) koroner jantung saya yang tersumbat lebih 50 persen. Sampai sekarang saya sehat-sehat saja. Apa penjelasannya, Dok?"

Jawab saya, karena pembuluh collateral koroner Anda membuka. Mengapa membuka? Oleh karena rutin berolahraga.

Pasien ini salah satu peserta seminar saya yang rutin jalan kaki aerobik. Bukan sekadar jalan kaki, melainkan yang mencapai aerobik. Aerobik tercapai bila 60% dari (220 - Umur) degup jantung/menit. Hanya bila aerobik tercapai dan rutin dilakukan setiap hari, sekurang 50 menit/hari, selain 10 manfaat jalan kaki diperoleh, satu yang termahal, yakni membukanya pembuluh collateral koroner, memberi harga yang sangat tinggi. Tidak usah keluar ongkos biaya pasangstent yang bisa lebih Rp 50 juta/cincin.

Jalan kaki tergopoh-gopoh atau brisk walking yang digagas oleh Cooper (Aerobic Revolution), ternyata selain memberi lebih 10 manfaat bagi tubuh, satu yang paling berharga, yakni membukanya pembuluh collateral. Sumbatan koroner yang sudah lebih separuh penampang koroner perlu dipasang stent untuk mencegah serangan jantung, itupun bila masih memungkinkan. Bila sumbatan pada cabang tertentu, dan atau sukar dipasang stent, maka perlu operasi bypass jantung. Namun apabila ada pembuluh collateral yang membuka, dan membukanya terjadi bila rutin berolahraga, maka kendati sudah tersumbat, bagian jantung yang terancam kekurangan pasokan darah akibat sumbatan sudah lebih separuh, masih tetap mendapat pasokan darah dari membukanya pembuluh collateral (Lihat Gambar di bawah).

Gambar kiri koroner yang collateralnya membuka, sehingga otot jantung tidak mengalami kerusakan karena masih terpasok darah. Sedangkan gambar kanan, collateral tidak membuka, maka otot jantung rusak, lalu serangan jantung terjadi.

Itu pula konsep "Sehat Itu Murah". Salah satu visinya, mencegah tidak perlu jatuh sakit, dan keluar ongkos berobat, dengan rutin jalan kaki tergopoh-gopoh atau brisk waliking.
Salam sehat.
Foto Handrawan Nadesul.