Fenomena Maraknya Ekspresi Kejujuran Nurani

0
(Foto: Ist)
Oleh Teguh Wijaya

Menteri Kominfo viral, yang gaji ibu siapa? Kata - kata pak Menteri  tersebut, seperti tangkisan terhadap salah satu PNS yg menjawab dalam sebuah acara  internal Kominfo,  Jumat, 1/1/2019.

Setelah ramai  di medsos, Menteri Rudiantara memberi klarifikasi melalui Humasnya.  "Atas pernyataan 'yang menggaji pemerintah  bukanlah dimaksudkan untuk menunjuk pilihan ASN tersebut," tutur Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu, dalam keterangan tertulisnya, Jumat seperti dikutip CNNI (1/2). "Melainkan merujuk kepada sikap ketidaknetralan yang disampaikan kepada publik yang mencederai rasa keadilan rakyat yang telah menggaji ASN." ia menambahkan,  apa yang dia maksudkan, yakni  ASN (Aparatur Sipil Negara) harus netral."

Klarifikasi tersebut disusul dengan  munculnya  sejumlah berita di portal media, yg mengunggah pernyataan, siapa yang mengunggah video YGKS (Yang Gaji Kamu Siapa) bisa dikenakan UITE. Berita itu terkesan seperti memberi pesan : awas lue ...!

Tapi alih alih masyarakat takut, unggahan video YGKS malah semakin viral. Dan disusul adanya #Yang gaji kamu siapa.

Dalam teori psikologi netizen, peristiwa yang unik, lucu dan menyimpang dari seorang figur publik akan cepat direspon dengan  dishare. Apalagi, konten peristiwanya  menggelitik, ada  penyimpangan "hukum" publik. Maka jangan heran,  kemudian muncul #Yang Gaji Kamu Siapa.

Dengan tagar itu, jelaslah netizen ingin mengkritik, klaim pendapat pemerintah yang bayar gaji PNS atau sekarang dikenal ASN,  itu salah. Bukankah yang benar, yang membayar ASN  adalah negara (baca rakyat)? Pemerintahan (rezim) dalam konsep negara RI itu merupakan sejenis  "anak kost" yang melayani dan melindungi rakyat seluruhnya. Sebagai anak kost, dia punya tenggat waktu dalam berkuasa.

Memang banyak yang mahfum, mengapa pak Menteri bertanya demikian. Dia adalah wakil pemerintah, tentu gelisah mendengar jawaban anak buahnya yang dianggapnya kurang pas, sehingga meluncurlah pertanyaan, yang gaji ibu siapa?

Tapi netizen memang "kejam", senang menviralkan peristiwa yang bersimpangan dengan hukum publik. Apalagi konteksnya, mengandung  pula  unsur ekspresi  kejujuran sikap  terhadap pandangan politik. Akan cepat merebak.

Sebenarnya fenomena ekspresi kejujuran seperti itu bukan hanya di kalangan ASN. Tapi akhir akhir ini juga marak di semua masyarakat, bahkan pelajar.  Bukan  hanya dalam komunikasi verbal lewat dialog tapi juga diekpresikan dalam  simbol, dua jari : ✌. Malahan untuk selfi dua jari,  seperti  tak peduli. Di medsos banyak ditemukan, perempuan dewasa dan anak,  selfi dua jari dengan petahana atau kelompok  lingkarannya. Video di Madura, masyarakat dan pramuka, dan  sejumlah  hal serupa di Jawa, bisa jadi contoh.

Fenomena mengekspresikan kejujuran nurani itu bahkan, kemarin seperti mendapat "legitimasi"  dengan munculnya KH Maimun Zubair, Pengasuh Pesantren, Al Anwar, Rembang, Jateng  membaca doa, yang memanjatkan  nama Prabowo untuk jadi pemimpin, yang bikin banyak orang kaget. Selain hal itu jarang terjadi,  saat berdoa, petahana ada disampingnya pak Kyai. Tak pelak,  kemudian videonya pun viral. Dan seperti terlihat dalam video, Romahurmuzy, Ketua PPP minta Mbah Mun untuk berdoa lagi.

Fenomena ekspresi kejujuran nurani, boleh jadi dilatarbelangi kuatnya angin perubahan untuk 2019. Dengan kata lain,   merupakan symptom atau tanda - tanda No O2 akan unggul dalam kontestasi 17 April nanti? Walahualam bisawab. Yang pasti, munculnya ekspresi kejujuran itu  mesti disyukuri sebagai buah keberhasilan demokrasi.  Masyarakat berani unjuk diri berbeda pilihan.*

*Penulis adalah penyair dan jurnalis.