15 Tahun Tangsel. Kebudayaan Belum Tergarap Apik

Menara Galeri Tangsel, kualitas pameran dipertanyakan.


Cipasera - HUT Kota  Tangerang Selatan (Tangsel) Ke 15 diperingati dalam Rapat Paripurna Istimewa di Gedung DPRD Kota Tangsel di Jalan  Puspitek, Setu, Minggu 26/11/23. 

Selain Anggota DPRD,  para pejabat, Walikota dan Wakil Walikota Tangsel, hadir pula Pj Gubernur Banten Al Muktabar. 

Dalam pidato HUT kota yang awalnya dideklarasikan dengan nama Cipasera itu, Walikota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan,  pada  HUT ke-15 Kota Tangsel diharapkan menjadi momen penting untuk terus menjalankan kewajiban yang bisa membangun dan melestarikan Kota Tangsel ini. Pembangunan tersebut dapat diwujudkan sesuai kondisi dan prioritas yang berkembang.

“Tentunya momen ini kita jadikan sebagai petunjuk arah dari tujuan awal dibentuknya Kota Tangsel ini. Dimana menciptakan sebuah sistem pelayanan publik yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Benyamin.

Dikatakan pada 15 tahun Kota Tangsel ini mengusung tema “Harmonis Berkolaborasi”. Dimana tema tersebut merupakan pengingat pentingya keseimbangan dan keserasian antar sesama dalam menanamkan komitmen pembangunan.

"Tidak hanya seremonial semata, namun momentum ini juga menjaga harmoni dalam sebuah kolaborasi di sektor kehidupan. Dengan terus bersama akan semakin kuat semakin baik sesuai dengan harapan dan keinginan warganya menjadikan Kota Tangsel sebuah kota dan masyarakat yang cerdas dan modern,” tandasnya. 

Sementara  Al Muktabar menuturkan,  modal dasar dari pembangunan yaitu menjaga stabilitas daerah melalui pelayanan kepada masyarakat.  HUT ke-15 Kota Tangerang Selatan (Tangsel), diharapkan menjadi momentum kebersamaan semua pihak untuk terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Saya ucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke-15 Kota Tangsel. Dari sini mari kita tingkatkan kolaborasi dan kerja sama. Sehingga apa yang telah kita capai mampu kita optimalkan demi memberikan pelayanan yang optimal pada masyarakat," kata Pj Gubernur Banten ini.

Terpisah, Pemerhati Lingkungan Oesman Jaya menilai, di usia ke 15, Tangsel masih jauh disebut kota yang baik lingkungannya. Jalanan banyak yang sempit, traffic ligt jarang sehingga menimbukan kemacetan disana sini. 

Demikian penataan perumahan. Perumahan cluster dibuat jorjoran. Tanah resapan makin berkurang.  Yang lebih parah, kebudayaan tak ditoleh. Tak memberi ruang kreatif beserta ekosistemnya tumbuh. 

"Padahal kota yang baik dimana pun di dunia, selalu membangun ruang kreatif agar seniman dan budayawan berkarya. Akibatnya tidak tumbuhnya iklim kreatif warga Tangsel, yang ada budaya instan tumbuh," kata Oesman," Kalau butuh karya ekpresi, pihak balaikota menggelar  lomba. Lomba bikin Tugu, lomba batik khas Tangsel dll. Harusnya itu dikerjakan oleh warga sendiri."

Sementara  salah satu Pendiri Tangsel Hidayat juga mengakui, Tangsel masih banyak kekurangan. "Ya memang Tangsel masih muda, kalau jujur kekurangan ada. Tapi setidaknya, warga Tangsel sekarang lebih enak, bisa ngurus tanah, izin lain di kotanya. Tidak pergi ke Tigaraksa Tangerang,". (red/T) 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel