Gemar Memberi Ternyata Menyehatkan

0

Oleh Dr Handrawan Nadesul

Setiap jalan kaki pagi saya menyaksikan seorang ibu bersepeda keliling kompleks menjinjing kantong plastik berisi pakan kucing dan anjing. Dia mendekati setiap kucing dan anjing liar yang ditemuinya di sepanjang jalan yang dilaluinya, dan memberinya makan. Acara begini, setahu saya dilakukannya setiap pagi.

Saya membayangkan, betapa hebatnya orang ini dalam hal memberi. Kepada hewan yang tak jelas, tak tahu asal usulnya saja dia begitu menaruh belas kasihan. Apalagi terhadap manusia, terhadap keluarga, terhadap orangtua. Bagaimana bisa tercipta orang yang seperti ini. Sikap kesukaaan memberi.

Saya berani pastikan yang dilakukannya itu pasti tanpa pamrih. Hanya dorongan belas kasihan, dan karenanya hadiah yang diterimanya saya kira kepuasan belaka. Kepuasan batin sudah bisa memberi. Filosofi ihwal kemuliaan hidup mengatakan, harusnya pihak yang memberi berterima kasih kepada yang diberi, oleh karena dengan bisa memberi, dia mendapat kesempatan, mendapatkan peluang berbuat kebaikan.

Sikap suka memberi saya kira diciptakan, diasah, dicerdaskan sejak masa kanak-kanak. Menyayangi, menaruh belas kasihan, berpikir untuk orang lain, melatih anak berempati. Rumah dan sekolah mendidik anak untuk berkarakter sebagai pemberi.
rumus Matematik efek memberi.



Bagi orang yang sudah terbentuk sikap suka memberi, menjadi pemberi yang aktif, sangat peka melihat kebutuhan orang lain. Mereka yang dari kecil merasakan susahnya hidup, umumnya lebih peka, lebih tajam berempati, dibandingkan anak yang dari kecil hidup mulus berkecukupan. Mendidik anak yang hidupnya berkecukupan agar menempuh hidup secara prihatin, cara lain mencerdaskan kepekaannya berpikir untuk orang lain.

Sikap suka memberi bagian dari praksis kebaikan. Praksis berbuat baik, dinisacayai sama sekali tidak ada ruginya. Dari aspek spiritualitas, memberi mendatangkan berkat. Tidak akan kekurangan dengan memberi, apa pun bentuknya. Spiritualitas orang-orang pemberi meniscayai itu. Walaupun bukan karena pamrih, kalau orang semakin murah hati dalam memberi, mereka malah semakin berkelimpahan.

Kalau sikap suka memberi juga bagian dari kebaikan hidup, saya teringat seorang paman sopir taksi di Singapura yang bilang begini, ":Kenapa dalam hidup ada orang-orang yang selalu mendapatkan uluran tangan ketika menghadapi kesusahan, malapetaka, bencana, dan ada juga orang-orang yang tidak seorang pun menolong ketika sedang kesusahan?" Paman sopir itu menjawabnya sendiri, "Orang-orang yang selalu ada dewa penolong setiap kali sedang kesusahan, oleh karena dalam hidupnya ia selalu berbuat kebaikan." Saya meniscayai itu.

Kalau saya pribadi sejak kecil suka memberi, sama sekali bukan karena pamrih itu. Barangkali karena memang sudah tertanam rasa dan sikap ingin dan gemar memberi. Selalu terpikir, seberapa bisa memberi dalam bentuk apa pun yang orang lain sedang perlukan, tengah butuhkan.

Saya meniscayai, suka memberi sama sekali tidak merugikan diri sendiri, pengalaman saya malah mendatangkan lebih banyak berkat. Dan itu yang nyatanya semakin menyehatkan jiwa. Bahwa agar bugar total hidup kita, jiwa kita pun perlu sehat walafiat. Gemar dan merasa senang memberi salah satu cara memetiknya.

Dr Handrawan Nadesul, Dokter ahli dan Penulis