Diskusi Pelurusan Sejarah Tangsel Hasilkan Dua Kesepakatan

0

Suasana diskusi sejumlah tokoh Tangsel. Hangat 
Cipasera - Diskusi bertema "Pelurusan Sejarah Kota Tangerang Selatan"  yang digelar di Bupe, Serpong, Tangsel, Jumat 11/10/2019 berlangsung hangat,  dan menghasilkan kesepakatan untuk membuat buku sejarah Kota Tangsel yang komprehensif, non politis dan melibatkan pakar sejarah kredibel bergelar doktor atau profesor.

Tidak itu saja, diskusi yang dihadiri 28 tokoh dan wartawan, antara  lain Ketua PWI Tangsel, Junaedi Rusli, Mantan Wakil  Bupati Tangerang Norodom Sukarno, Hidayat, Penggagas Kota Tangsel, Sania Wiraredja Presidium Pembentukan Kota Tangsel, Ketua Bawaslu  Tangsel M.Acep, Mantan Komisioner KPUD Badrussalam, Mantan anggota DPRD Robert Usman dan Tb Sos Rendra itu, juga  mengerucut dibentuknya organisasi untuk menfasilitasi  penulisan buku tersebut, yakni Persatuan Tangsel Bicara.

Menurut Ketua PWI Tangsel Junaedi Rusli yang tampil sebagai moderator, sejarah harus ditulis  dengan jujur dan apa adanya. "Semut saja kalau berperan dalam sejarah, ya harus ditulis yang benar," kata Junaedi.

Dalam pemaparannya, Hidayat mengungkapkan. Dari tiga buku sejarah Tangsel yang pernah terbit, semua meminta data - data dan dokumentasi yang dimiliki. "Tapi dari sekian informasi dan dokumen yang saya berikan untuk bahan penulisan, banyak yang tidak ditulis," kata Hidayat. "Yang lebih kacau, ada usaha plintiran. Misalnya, Tgl 31 Maret 2002 adalah Deklarasi Kota Cipasera, diplintir jadi berdirinya KPPDO - KC (Komite Panitia Pembentukan Daerah Otonomi - Kota Cipasera," ungkap Hidayat.

Hidayat juga mengaku, sejak dia pindah dari Deplu ke Pemkot Tangsel, dia merasa ada birokrat yang tak suka dirinya jadi tokoh. "Saya ya diam saja. Saya biarkan. Masyarakat kan tau siapa sesungguhnya penggagasnya, "ujar Hidayat.

Sementara Sania mengungkapkan, Presidium itu dibentuk setelah ada kesepakatan dengan Bupati Tangerang Ismet Iskandar dan sejumlah penggiat pemekaran di Sekolahan Muhamadyah, Pamulang. "Dari situ Pak Ismet setuju pemekaran Kota Cipasera yang kemudian jadi Tangsel," kata Sania.

Dan Presidium Pembentukan Kota Tangsel dibuat bukan tiga orang tapi enam orang, Yakni Hidayat mewakili KPPDO- KC, Zarkasi Noor mewakili Format, Margiono wakil Bakor Cipasera, Sania Wiraredja mewakili Komber Cipasera, Soni Satria mewakili Anggota DPRD dan Rasyud Sakur. "Nah, saya ga tau Rasyud itu mewakili organisasi apa. Sebab Presidium itu representasi organisasi pemekaran," ungkap Sania.

Sementara  Ketua Bawaslu Tangsel Acep yang sempat ikut aktif pemekaran kecamatan Serpong ini memberikan masukan, nantinya Buku sejarah Tangsel yang baru diberi judul Menggugat Sejarah Tangsel. Judul tersebut sebagai koreksi buku- buku sebelumnya yang isinya tidak sesuai dengan sejarah yang ada.

Sedangkan mantan komisioner KPU Tangsel Badrussalam mengatakan,  lebih menginginkan buku sejarah Tangsel nantinya merupakan kompilasi kiprah empat organisasi pemekaran Kota Tangsel, yang nanti melibatkan pakar sejarah.

Selain menghasilkan simpulan diterbitkannya buku sejarah Tangsel yang komprehensif, non politis dan melibatkan pakar sejarah, terbentuk pula organisasi fasilitator penerbitan, Yakni Persatuan Tangsel Bicara dengan pengurus sementara, Ketua : Junaedi Rusli, Sekretaris : Teguh Wijaya  dan Bendahara: Mizz Faradiba.  Sedangkan untuk posisi yang lain disusun kemudian hari. (T)