Kebocoran Pabrik Batching Plant, Gakkum KLH Enggan Jawab Wartawan

PT Adimix, tampak 4 tabung pengolah
Cipasera - Bocornya satu tabung pabrik semen beton (batching plant) PT Adimix yang sempat bikin udara pekat hingga kini belum ada penjelasan resmi dari Kementrian Lingkungan Hidup. Padahal setelah sehari terjadi kebocoran, Tim Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup melakukan pengecekan langsung ke lokasi dugaan kebocoran di Jalan Buntu, Rawa Mekar Jaya, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa, 17/2/2026.
Bukan hanya Gakkum KLH, kepolisian setempat, juga sudah datang memeriksa TKP kebocoran. Pertemuan aparat Gakkum KLH, Dinas Lingkungan Hidup Tangsel, anggota DPRD Tangsel juga hadir, bahkan hingga menggelar pertemuan tertutup dengan perwakilan pabrik, pengurus lingkungan terdampak.
Saat wartawan menemui pihak PT Adimix yang diwakili Undarto mengatakan, bahwa perusahaannya sudah beroperasi sejak 2005 saat Tangsel masih dibawah Kabupaten Tangerang. "Kami selalu melakukan pengawasan dan perbaikan alat rutin. Tapi memang ada yang bocor," kata Undarto, Selasa 17/2/26.
Saat Undarto ditanya soal kenapa bocor, ia menjawab pendek," Ya bocor."
Sementara Tim Gakkum KLH saat ditanya wartawan enggan menjawab dan buru- buru masuk mobil.
Peristiwa kebocoran diduga terjadi pada Senin (16/2/2026) sore. Debu olahan semen bertebaran hingga menutupi udara di sekitar kawasan padat penduduk dan membatasi jarak pandang pengguna jalan.
Tokoh pemuda setempat, H Reza Pahlepi (32), menilai penanganan dan transparansi informasi kepada warga masih minim. Ia menegaskan masyarakat membutuhkan kepastian mengenai penyebab dan dampak kesehatan dari insiden tersebut. “Warga terdampak langsung, tapi sampai sekarang belum ada penjelasan terbuka soal penyebab maupun risiko kesehatannya. Ini menyangkut keselamatan masyarakat,” ujarnya.
“Kalau memang terjadi kebocoran, harus ada evaluasi serius. Jangan sampai kejadian serupa terulang dan warga terus jadi pihak yang menanggung risiko,” katanya.
Diketahui, pabrik beton di kawasan tersebut telah beroperasi sejak sebelum pemekaran Kota Tangerang Selatan. Keberadaan dan perizinan operasionalnya kini menjadi sorotan publik menyusul insiden hujan abu yang sempat memicu kepanikan warga. (Red/t)