Buntut Rektor UIN Pimpin "Demo", Mahasiswa Minta Rektor Humanis dan Hormati Hukum
Sebagian pendemo bentangkang poster. (Foto : Ist)
Cipasera – Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Asep Saefudin Jahar didemo mahasiswanya, yang tergabung dalam Aliansi mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin 8/6/2026.
Demo dipicu oleh ulah sang Rektor yang membawa rombongan berjumlah sekira 90 orang ke TK/SDI Pembangunan Pamulang ( Sekolah Dasar Islam ). Ditolak masuk oleh keamanan sekolah tapi rektor memaksa masuk. Dan mengakibatksn anarki, pintu pagar sekolah rusak dan satu staf SDI Pembangunan cacat permanen, jari tangananya patah, Kamis (4/6/2026) lalu.
Dalam aksi tersebut, para mahasiswa membawa poster dan membentangkan dengan tulisan bernada kecaman dan kritik, antara lain berbunyi: “Guru Besar itu main otak bukan otot!”, “Kampus Islam tapi Rektor Pra-Islam”, dan “Tak ada rektorat yang seruduk anak-anak”.
Aksi puluhan mahasiswa ini coba dihalangi oleh pihak security kampus. Semula mereka ingin berorasi di depan rektorat, akhirnya lokasi orasi dipindahkan di area kampus lain. Para pendemo membagikan selebaran dan orasi.
“Kami menggelar aksi damai. Kami tidak benci UIN tapi aksi ini karena kami cinta UIN. Kami hanya ingin mengingatkan,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa. Senin (08/06).
Selain itu, para mahasiswa ini lalu menyerukan tiga Tuntutan Utama Mahasiswa kepada Rektor UIN Jakarta
Yang pertama, mahasiswa mendesak kepemimpinan tertinggi kampus untuk bertindak progresif dan humanis, hentikan tindakan lapangan sepihak.
Kedua, meminta rektorat menghentikan segala bentuk eksekusi atau pergerakan massa di lapangan selama proses hukum di PTUN dan Pengadilan Negeri masih berjalan aktif untuk menghormati supremasi hukum
Dan yang terakhir, Rektor UIN Jakarta diminta menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada anak-anak, wali murid, dan pihak sekolah yang terdampak trauma akibat insiden 4 Juni.
Tak hanya itu, para pendemo minta rektorat bertanggung jawab atas kerusakan infrastruktur sekolah yang ditimbulkan saat melakukan pemaksaan masuk sekolah akibat gesekan.(red/t/TU)