Pariwisata Tangsel Mati Tanpa Imajinasi
Oleh Teguh Wijaya
Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bukan kota mati. Lalu lintasnya padat, malnya penuh, dan populasi terus membengkak. Tapi dalam satu sektor yang seharusnya bisa menjadi mesin ekonomi - pariwisata, Tangsel justru tertinggal. Ia ramai dilalui, tetapi sepi dikunjungi lantaran obyek wisatanya tak punya imajinasi.
Data berbicara cukup telanjang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada April 2026 perjalanan wisatawan nusantara ke Provinsi Banten mencapai 5,44 juta perjalanan. Dari jumlah itu, Kabupaten Tangerang menjadi tujuan utama dengan porsi 30,38 persen, disusul Tangsel 22,87 persen dan Kota Tangerang 21,01 persen.
Sekilas, angka 22,87 persen itu tampak besar dan pantas dibanggakan. Namun justru di situlah masalahnya: Tangsel hanya menjadi “lintasan” dari arus wisata Banten, bukan tujuan utama. Ia kalah dari Kabupaten Tangerang yang memiliki kawasan wisata yang berhasil diubah penuh imajinasi. Lihat saja, wisata pantai, religi, budaya yang banyak dikunjungi.
Lebih ironis lagi, data yang sama menunjukkan warga Tangsel justru paling sering bepergian keluar daerah, mencapai 31,05 persen.
Artinya jelas: warga Tangsel sendiri tidak menjadikan kotanya sebagai destinasi wisata. Kemungkinan, kotanya bikin bete
Tak Punya Ikon dan Cerita
Masalah pertama bersifat mendasar: Tangsel tidak memiliki daya tarik alam ikonik. Tidak ada pantai seperti di Anyer, tidak ada kawasan heritage kuat seperti di Banten Lama, bahkan ruang terbuka hijau yang layak jual pun terbatas.
Dalam industri pariwisata, ikon adalah pintu masuk. Tanpanya, promosi kehilangan jangkar. Tangsel gagal sejak titik awal: ia tidak punya sesuatu yang bisa diceritakan secara kuat kepada publik. Pengelolanya pun tak punya imaji
Data Dinas Pariwisata Tangsel sendiri menunjukkan objek wisata yang ada didominasi kategori buatan dan skala kecil, bukan destinasi kelas regional yang mampu menarik arus wisatawan besar.
Seorang akademisi pariwisata dari Banten pernah menegaskan, “Daya tarik adalah kunci. Tanpa diferensiasi, kota hanya jadi tempat lewat, bukan tujuan.” Pernyataan itu seperti potret telanjang Tangsel hari ini.
Bukan Kota Tujuan
Faktor kedua lebih struktural: sejak awal, Tangsel memang tidak didesain sebagai kota wisata.
Ia tumbuh sebagai kota satelit Jakarta—ditopang oleh ekspansi perumahan, kawasan komersial, dan gaya hidup urban. BSD, Bintaro, hingga Alam Sutera berkembang sebagai township modern. Tapi semua itu menghasilkan ekonomi konsumsi, bukan ekonomi destinasi. Mall penuh bukanlah indikator pariwisata. Itu hanya perputaran uang warga sendiri.
Kepala BPS Provinsi Banten, Yusniar Juliana, dalam rilis resmi menegaskan, pola pergerakan wisata di Banten masih terkonsentrasi pada wilayah dengan daya tarik spesifik. “Kabupaten Tangerang menjadi tujuan utama perjalanan wisatawan nusantara di Banten,” ujarnya.
Masalah kedua, Tangsel, sekali lagi, hanya mengikuti arus—bukan menciptakannya. Disini tampak jelas. Kreasi wisata sangat kurang. Kalau pun ada sangat kecil: festival festival artifisial.
Promosi: Tidak Terasa
Masalah ketiga adalah promosi yang lemah dan tidak memiliki positioning. Seperti tak memiliki daya kreatif dan tak mampu metumuskan kekuatan.
Di era digital, destinasi wisata hidup dari eksposur. Tanpa narasi yang kuat, sebuah kota tidak akan masuk dalam radar wisatawan. Tangsel hampir tidak memiliki branding pariwisata yang jelas—tidak ada slogan kuat, tidak ada kampanye yang konsisten, tidak ada identitas yang diingat.
Data pemerintah daerah bahkan menunjukkan aktivitas promosi wisata masih terbatas pada event administratif, bukan strategi pemasaran destinasi yang terukur.
Akibatnya, Tangsel tenggelam di antara kota-kota lain yang lebih agresif membangun citra.
Bandingkan dengan Banten Lain
Lihat kontrasnya. Kabupaten Tangerang punya pantai utara dan wisata religi. Kota Serang punya Banten Lama. Pandeglang punya Tanjung Lesung. Bahkan Lebak punya Badui, ikon budaya yang mendunia.
Semua daerah itu punya satu kesamaan: cerita.Tangsel tidak.
Kegagalan Imajinasi
Pariwisata Tangsel tidak berkembang sesungguhnya bukan semata karena kekurangan alam. Ia gagal karena tidak mampu membangun imajinasi, arah wisata yang menarik. Obyek wisata itu sangat memerlukan imaji yang menyenangkan untuk disimpan publik.
Padahal peluang itu ada. Wisata urban kreatif, wisata komunitas seperti Kampung Keranggan, hingga festival budaya Betawi-Sunda bisa menjadi diferensiasi. Tapi semua itu masih sporadis, tidak dirancang sebagai ekosistem.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, Tangsel akan tetap menjadi kota transit: besar secara demografi, tetapi kecil dalam daya tarik. Pariwisatanya lalu mati. Padahal, konon, punya staf ahli yang konon dibayar puluhan juta berkali - kali.
*Penulis wartawan dan penyair.
