Mengenang Ikon Remaja Ali Topan dengan Bahasa Prokemnya
Novel pop Ali Topan Anak Jalanan (1977) pernah best seller. Novel karya Teguh Esha ini lalu dibuat film dengan judul sama memasang pemain Junaedi Salat yang dihiasi lagu Ali Topan karya Guruh Soekarno Putra. Sementara musisi kakak beradik Franky & Jane pun ikut menyanyikan lagu "Balada Ali Topan" yang jadi ikon remaja masa itu: rambut gondrong, jean's belel dan motor trail. Berikut sebuah tulisan sebuah majalah sohor untuk mengenang gaya hidup remaja yang populer dengan bahasa prokem, pasca orde lama.(redaksi)
***
LEGENDA ALI TOPAN
He, Jack! lagi ngapain lu pade? Gout bilangin ye. Si Gevaert ke Jerman. Gara watu mau jadi anak buah Baahder Meinhof ‘kali. Kalo si Dudung nerusin ke IPB, Bogor, belajar cara nanem padi, gele' ame candu ‘kali.
Si Bobby? Katro banget dia! Gara bokis dijadiin meten, jack! Suka lupa ame kawan! Eks harim gout, si Anna Karenina nyang ortunya sangar kayak ‘kang jaga kuburan, terbang ke Singapur, digusur bo-kapnya. Gout udah bilangin, eh die maksa. Ya udah. Gout gara bokis bilang pae pae lagi deh!!
Itulah gaya bertutur Ali Topan, si "Anak Jalanan" yang pernah jadi idola remaja pada 1970-an. Tokoh rekaan Teguh Esha ini menjadi lambang kebebasan kawula muda. Bahasa prokem, rambut gondrong sebahu, jaket jins buntung, dan celana cutbrai ialah ekspresi kebebasan generasi Ali Topan.
Teguh ingin bercerita tentang pencarian jati diri. Ia mau menggambarkan pemberontakan kaum muda terhadap egoisme orang tua. Ia juga ingin mengangkat kultur jalanan masa itu. Dan pengarangnya memang pas merespons kenyataan tersebut.
"Saya memang mengadopsi gaya hi- dup remaja 1970-an. Tapi yang penting bagi saya adalah spiritnya," ujar Teguh Esha ketika ditemui MATRA di rumahnya di Bintaro, Jakarta. Slogan Ali Topan bukan sekadar untuk gaya-gayaan. "Dia adalah jiwa yang berontak untuk kebebasan. Masa depan menjadi taruhannya," kata Teguh menambahkan.
Novel Ali Topan Anak Jalanan mengisahkan persoalan kasih sayang. Ali Topan terlahir sebagai anak gedongan. Ayahnya seorang pelaku bisnis yang supersibuk dan suka main perempuan alias "om senang". Ibunya pun gemar bermain dengan gigolo. Dalam kesepian itulah Ali Topan tumbuh menjadi anak jalanan.
Bersama teman-temannya – Bobby, Dudung, dan Gevaert – anak sekolahan SMA 202 Bulungan, ia jadi pemimpin kelompok anak jalanan. Anak-anak ini bahkan sering dicap sebagai berandalan. Mereka acap nongkrong di anak tangga Pasar Blok M (sekarang letaknya di belakang Aldiron Plaza).
Namun, di balik itu semua, Ali masih bisa bergaul dengan tukang buah, plokis alias polisi, pemulung, dan tukang kembang di Jalan Barito. Pokoknya, dari siapa dan apa saja yang ditemui di jalanan, ia belajar suatu sistem nilai, tata pergaulan, dan solidaritas yang tulus – hal-hal yang tidak diperolehnya di rumah.
Sebenarnya, kehidupan Ali Topan tak jauh berbeda dengan pengalaman Teguh Esha. "Ali Topan adalah ekspresi diri saya. Saya hidup dan besar di jalanan," kata Teguh polos. Ia menulis Ali Topan agar masyarakat bisa mengetahui kehidupan jalanan, yang belum banyak dikemukakan kala itu. "Tentu saya tak mungkin menulis apa yang tidak saya ketahui," ujarnya.
Bagi Teguh, Blok M punya daya tarik tersendiri. Sebagai daerah yang baru tumbuh dan penuh dinamika, kawasan itu memiliki keunikan dan keistimewaan. Tempat ini pas buat tongkrongan anak muda. "Kebetulan karena saya akrab dan tahu seluk-beluknya, saya ingin mengangkat Blok M," kata Teguh.
Anak ketujuh dari delapan bersaudara ini lahir pada 8 Mei 1947 di Banyuwangi, Jawa Timur. Nama lengkapnya: Teguh Slamet Hidayat Adrai. Ia adalah salah seorang "alumni" Gelanggang Remaja Bulungan, yang produktif waktu itu. Pada 1971, bersama Kadjat Adrai dan Joko Prayitno, Teguh sempat menerbitkan Sonata – tabloid pertama di Indonesia. Kemudian, pada1976, bersama si kembar Noorca dan Yudhistira Massardi, ia membuat majalah Le Laki.
Novel Ali Topan adalah karya pertama Teguh. Awalnya adalah ajakan Dedi Armand untuk menulis cerita bersambung di majalah Stop pada 1972. Tokoh sentralnya sengaja dipilih yang mewakili gaya anak muda saat itu. "Cerita ini sebenarnya semacam sketsa sosial," ujar Teguh.
Pada 1977, penerbit Cypress tertarik membukukan serial Ali Topan. Dalam waktu setengah tahun, novel dengan sampul muka yang dibuat oleh Jan Mitaraga dan dijual seharga 1.200 perak itu langsung jadi best seller. Yang menarik dari novel tersebut, selain terdapat karakter khas Ali Topan, tampak kepiawaian Teguh Esha dalam merangkai dialog.
Boleh jadi Teguhlah yang pertama kali mempopulerkan bahasa prokem. Misalnya kata nyokap (ibu), bokap (bapak), gokil (gila), dan siokap (siapa), yang kita temukan dalam novel itu. Bahkan, dalam seri kedua, Ali Topan Detektif Partikelir, Teguh melampirkan pula kamus prokem ala Ali Topan. Menurut dia, kumpulan bahasa prokem itu diperoleh dari Hasan Dolar, narapidana yang baru keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.
Ali Topan makin jadi sorotan saat diangkat ke layar lebar. Apalagi soundtrack film itu digubah Guruh Sukarno Putra, dengan penyanyi Chrisye. Popularitas si "Anak Jalanan" pun semakin terdongkrak. Bahkan, banyak pula anak muda mengidentifikasikan diri sebagai Ali Topan.
Padahal, Teguh tidak bermaksud mengkultuskan tokohnya seperti itu. "Saya menulis Ali Topan tidak dengan pretensi menceritakan kehidupan orang lain," ujarnya. Bahwa tiba-tiba terasa ada pengaruh, dan banyak yang mengidentifikasikan diri sebagai Áli Topan, menurut Teguh Esha, itu wajar-wajar saja. "Ali Topan adalah refleksi diri saya tentang anak muda Indonesia yang ideal," ka tanya. Meski badung, Ali Topan merupakan sosok anak muda yang cerdas dan berhati mulia.
Keadaan itu dilukiskan Teguh lewat dialog antara Ali Topan dan Anna Karenina, kekasihnya, dalam novel Ali Topan Kesandung Cinta. Diceritakan bahwa Ali bermaksud meneruskan pendidikan ke bangku kuliah. Tapi ia tidak sudi dibiayai orang tuanya. Dia ingin berusaha sendiri. Ternyata, biaya masuk perguruan tinggi selangit. la lalu memutuskan untuk sementara tidak berlanjut ke universitas.
Anna bertanya, "Kalau kamu tidak kuliah, ingin jadi apa?" Ali lalu balik bertanya, "Kalau kamu kuliah, ingin jadi apa?" Begitulah prinsip Ali Topan. Baginya, sekolah tidak selalu menjamin orang berhasil. "Di situ ada gagasan pendidikan informal," ujar Teguh.
Sayang, seri ketiga dan keempat, Ali Topan Prokem Road dan Ali Topan Santri Jalanan, belum diterbitkan. Sehingga, bertahun-tahun berselang kemudian, nama Teguh Esha tak dikenal remaja masa kini. Begitu pula Ali Topan.
Meski demikian, baik Teguh Esha maupun Ali Topan akan tetap dikenang sebagai bagian dari sekelumit perjalanan kaum muda pada zamannya. Tokoh rekaan bernama Ali Topan telah menjadi legenda – walaupun cuma lahir dari sebuah novel bercorak pop. Barangkali yang menggoda kita: ia karya susastra atau bukan? *Budi Syahbudin
Source : MATRA, MEI 1995.
