Puisi Dahulu Versus Puisi Kini
Puisi sejak dahulu dikenal masyarakat punya nilai dan magnetude estetiknya. Tak heran, surat kabar dan majalah menyediakan rubrik puisi dan penulisnta dapat honor lumayan. Di tahun 1998 ada surat kabar yang membayar satu puisi Rp 450 ribu bila berhasil lolos seleksi lalu ditayang di medianya. Nominal Rp 450 ribu tergolong tinggi lantaran satu gram emas 20 karat harganya Rp 150 ribu, kala itu.
Tak hanya itu, performance baca puisi pada tahun sebelumnya oleh penyair harus bayar. Hebatnya, penontonnya membludak. Seiring dengan itu, lomba baca puisi juga ramai ditonton dan peserta membayar. Sementara buku puisi yang terbit, mengalami cetak ulang. Misalnya, buku puisi Balada Orang Orang Tercinta karya WS Rendra. Saya pernah membeli cetakan ke 5 buku tersebut di pasar loak Pasar Senen, Jakarta Pusat
Selain punya magnetude kuat, puisi juga termasuk karya yang sering bikin gagal paham; dianggap "makar" oleh rezim. Alhasil pembacaan puisi sering sulit izin. Penulis pernah diminta pihak aparat menyetor puisi- puisi yang hendak dibaca di acara Pesta Seni Bulungan 1985 Gelanggang Remaja Jakarta Selatan. Demikian dengan puisi - puisi penyair lain seperti Yoyik Lembayung, Ags. Arya Dipayana .
Yang lebih dahsyat, sekira tahun 1974, pembacaan puisi Rendra di TIM, pernah dilempari bom amoniak. Entah siapa yang melempar tak jelas. Hanya saja publik menduga pelemparnya aparat. Seba tak lama kemudian setelah insiden itu, Rendra ditangkap. Ditahan di Guntur.
Pendek kata, puisi punya pesona yang dahyat. Tak heran, orang disebut penyair terasa waaaarrr biaasah...
Ssssst.....eit tunggu dulu. Itu dahulu, ketika puisi tidak saja menjadi wilayah pencarian estetika tapi juga menyuarakan ketimpangan sosial dan keadilan serta membangun kesadaran kemerdekaan hidup.
Dan kini, setelah fase demi fase, puisi tampaknya masih ditulis oleh banyak orang. Penulisnya masih disebut penyair. Namun puisi tampaknya pesonanya seperti merosot. Dalam 10 tahun terakhir, jarang media yang menyediakan rubrik puisi. Kalau pun ada, penulis puisi tidak dapat honor.
Selain itu, buku puisi di toko buku makin jarang terlihat jarang ada. Demikian di outlet sangat sulit menemukan buku puisi cetak ulang berkali kali. Memang ada buku puisi yang cetak ulang tapi biasanya yang diterbitkan secara indie. Pemasarannya tak konvesional. Dijual lewat jaringan group medsos.
Pembuatan buku antologi puisi marak diselenggarakan, namun biasanya puisi yg lolos seleksi tak diberi imbalan cuan. Hanya diberi buku bila sudah terbit.
Perhelatan sastra, baca puisi penontonnya juga minim. Padahal gratis. Malah ada istilah 4 l : lue lagi lue lagi...Padahal penampilan pembaca puisi penyair sekarang jauh lebih modis dadanannya, pake slayer , topi dll.
Singkat kata, pesona puisi kini menurun dan seperti kehilangan daya tariknya meski secara kwantitas lebih banyak.
Tapi maaf, barangkali itu pandangan saya yang keliru. Dan mudah - mudahan puisi sekarang tidak demikian, malah jauh lebih maju dibanding dengan puisi beberapa dekade lalu. (Teguh Wijaya)
* * *

